Pertama-tama, gue mau meminta maaf banget,
seharusnya gue mulai menjadikan blog ini serius dengan beberapa pos yang sudah direncanakan dari awal tahun. Perencanaan masa depan blog ini pun sudah diarahkan, namun karena kesibukan gue sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, semua ketunda dahulu.
hari ini gue posting itu karena gue memiliki waktu luang setelah skenario draft 1 gue selesai dan sedang dalam pemeriksaan dosen pembimbing. doakan saja semua lancar ya.. (Amin)
nah lucunya, gue sempat membuat satu cerpen diantara kesibukan gue tersebut, sebenarnya ini adalah permintaan tolong seorang teman untuk sebuah tugas. awalnya gue hanya membuat sekedarnya, tapi namanya keajaiban otak, entah kenapa ide gue mengalir dengan deras. berbeda dengan saat gue mengerjakan skenario gue
memang ternyata hal yang ga terlalu dibeban justru kadang jadi lebih bagus.
so ini adalah cerpen pertama gue di 2016 sekaligus cerpen gue yang baru gue buat setelah bertahun-tahun vakum menulis cerpen .
OJEK PAYUNG
Kata orang...
Kebahagiaan bagi suatu orang berarti disaat bersamaan menjadi penderitaan
bagi orang lain. Jadi seperti saling melengkapi. Misalnya, ketika di suatu
kelas ada seorang guru fisika yang memiliki wajah yang menyeramkan, sebagian
akan mengatakan bahwa guru itu galak, sebagian ada yang mengatakan bahwa guru
tersebut pintar, karena dia bisa menyampaikan materi dengan baik. Atau misalnya
ada orang suka sama kucing karena katanya lucu, imut, menggemaskan. Tapi disatu
sisi ada juga yang tidak menyukai kucing, entah itu karena bulunya atau
kelakuan kucingnya. Atau, ada manusia yang tidak menyukai hujan, ada juga
manusia yang tidak menyukai hujan. Tidak suka karena mengganggu aktivitas, membuat
kantuk dan sebagainya, suka karena dapat disimbolkan menjadi sesuatu yang
romantis atau hal lainnya
“Dek, ojek payungnya”,
panggil seorang laki-laki.
Ya, Luthfi adalah bagian dari penyuka hujan bukan karena romantis, sejuk
atau alasan yang terlalu picis seperti itu. Baginya hujan sama dengan rejeki.
Ia mengambil pundi-pundi diantara kekesalan orang-orang terhadap hujan. Berlari
dengan guyuran air langit dan suasana udara yang biru.
“mau kemana, pak? “
“Stasiun”
“ini payungnya”
Luthfi menyerahkan payung warna pelangi itu, kemudian dia berlari mengikuti
dari belakang. Sesekali ia bercanda dengan rekan sesama ojek payung.
Menciptakan cipratan yang terkadang mengganggu orang sekitar, tapi mana peduli
mereka. Bagi mereka, hujan sama dengan rejeki dan taman bermain gratis.
Sesampainya lelaki tadi di stasiun, ia memberikan dua lembar pecahan
sepuluh ribu. Kemudian ia berlalu dengan tergesa-gesa. Hanya raut kecewa yang
terpampang di wajah luthfi. Kemudian ia berlalu meninggalkan stasiun, mencari
rejeki yang ia tak kunjung ia temukan.
Kali ini dia berlomba bersama kawannya, siapa yang lebih dahulu sampai di
pasar kembali, ia berhak memberikan payung ke pemenang selama 15 menit. Tapi
dengan syarat harus menghindari setiap genangan yang ada.
“satu, dua, TIGA!”, teriak
Luthfi. Keduanya berlari sembari memegang payung, membuat gerakan akrobatik
untuk menghindari genangan kecil nan rapat, mempraktikan gerakan lompat jauh
saat genangan besar menghadang, serta mendorong satu sama lain agar bisa
memenangkan kompetisi tersebut, mereka bersaing dalam tawa. Pada akhirnya,
kawannya tersebut yang menang. 15 menit ia relakan payungnya dan hanya sibuk
menikmati hujan yang sepertinya tak akan kunjung reda.
Hari semakin sore dan benar saja, langit masih sibuk menumpahkan air-air
langitnya yang seperti tidak akan ada habisnya. Di setiap titik sudah tercipta
banji-banjir semata kaki yang makin menggangu orang-orang yang beraktivitas.
Luthfi sudah mendapatkan kembali payungnya. Kini ia sibuk menawarkan jasanya di
sekitar stasiun. Jam segitu adalah jam pulang kantor bagi beberapa orang.
Luthfi berlalu lalang namun tak kunjung menemukan orang-orang yang mau
menggunakan jasanya. Sepertinya orang-orang mulai menyadari bahwa musim hujan
akan berlangsung lama sehingga mereka sudah menyiapkan payung mereka sendiri.
Beberapa orang yang sudah menggunakan jasanya sore itu memberikan duit sekitar
20-30 ribu. Tapi raut wajah luthfi masih saja kecewa.
“Dek, ojek payung” seorang
lelaki pekerja kantoran memanggilnya. Ia tampak gelisah saat memanggil Luthfi.
Kemudian Luthfi menghampiri lelaki itu.
“mau kemana, pak?” tanya
Luthfi.
“Udah, ikut aja. Saya
buru-buru, nanti saya bayar gede”, kata lelaki itu dengan gelisah. Disaat yang
bersamaan, Luthfi melihat seorang gadis kecil sedang menangis. Dia menoleh
linglung seperti mencari sesuatu.
“dek, sini payungnya, saya
buru-buru ini!” kata lelaki itu setengah berteriak. Luthfi menatap lelaki itu
lalu kembali melihat gadis itu bergantian.
“Maaf pak, cari ojek
payung yang lain aja”, kata luthfi sambil meninggalkan lelaki itu
“Dasar, dikasih rejeki
malah nolak”, kata lelaki itu dari kejauhan. Luthfi tidak peduli, ia
menghampiri gadis tersebut. Gadis itu terllihat ketakutan melihat Luthfi yang
sedikit kumuh.
“Kenapa dek?” tanya
Luthfi. “ Jangan takut, saya ingin menolong kamu”
“Ibu saya hilang” kata
gadis itu sembari menangis. Ia menangis semakin jadi. Luthfi semakin
kebingungan. Ia menoleh sekitar dan kebingungan. “ tadi saya ke pasar sama ibu
saya, terus tadi ada kucing lucu. Tapi, kucing takut saya deketin, mangkanya
saya kejar, terus...” gadis kecil itu tak mampu melanjutkan kata-katanya.
“Dek, pakai payungnya.
Kita ke pasar lagi, kita cari ibu kamu sama-sama, siapa tahu ibu kamu masih di
pasar”, Luthfi menyodorkan payungnya.Gadis itu mengambil lalu memayungi
dirinya. Saat melihat Luthfi berlari di dalam hujan, Gadis itu protes
“ kamu kok hujan-hujanan?
Ini payungan sama aku”. Luthfi tersenyum.
“Nggak apa-apa, kamu aja
dek. Saya lebih senang hujan-hujanan”. Gadis itu mengerutkan dahi. “ ini cara
saya berterima kasih sama hujan, dek. Kalau nggak ada hujan, nggak bakal ada
ojek payung”
Gadis itu mangut-mangut. Kemudian keduanya menuju pasar. Di dalam pasar
sudah terjadi kehebohan, seorang perempuan menangis. Perempuan yang menangis
tersebut tak lain adalah ibu dari gadis kecil tersebut. Luthfi membawa gadis
itu ke ibunya, gadis itu berteriak memanggil ibunya dan terjadi adegan haru
pertemuan kembali ibu dan anak. Orang-orang yang tadi berkerumun, kembali ke
posisi masing-masing. Gadis dan ibunya tersebut berlalu. Luthfi sempat terlihat
termurung, lalu gadis itu menoleh balik
“Terima kasih, Tuan ojek
payung”. Luthfi tersenyum, itu rejeki yang ia tunggu-tunggu seharian. Luthfi
melambaikan tangannya lalu dibalas oleh gadis tersebut.
Gadis itu berjalan bersama
ibunya keluar dari pasar, ibunya membuka payung lalu berjalan, kemudian gadis
itu justru hujan-hujanan.
“Lia, jangan
hujan-hujanan, nanti kamu sakit”
“Nggak apa-apa ma, ini
cara terima kasih Lia sama hujan. Karena hujan, Lia bisa ketemu mama lagi.” Ibu
nya tersenyum haru, lalu menutup payungnya. Bersama dengan gadis kecilnya,
mereka berjalan menerobos hujan menuju arah pulang.