Minggu, 24 April 2016

Ganti nama blog

well, just info

awalnya nama blog gue adalah Ganishe-bidong.blogspot.co.id

tapi... karena suatu kejadian yang sedikit menyeramkan bagi gue

akhirnya gue menggantinya menjadi bilanabidong.blogspot.com


itu aja


Sabtu, 23 April 2016

Post pertama di 2016

Pertama-tama, gue mau meminta maaf banget,

seharusnya gue mulai menjadikan blog ini serius dengan beberapa pos yang sudah direncanakan dari awal tahun. Perencanaan masa depan blog ini pun sudah diarahkan, namun karena kesibukan gue sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, semua ketunda dahulu.

hari ini gue posting itu karena gue memiliki waktu luang setelah skenario draft 1 gue selesai dan sedang dalam pemeriksaan dosen pembimbing. doakan saja semua lancar ya.. (Amin)

nah lucunya, gue sempat membuat satu cerpen diantara kesibukan gue tersebut, sebenarnya ini adalah permintaan tolong seorang teman untuk sebuah tugas. awalnya gue hanya membuat sekedarnya, tapi namanya keajaiban otak, entah kenapa ide gue mengalir dengan deras. berbeda dengan saat gue mengerjakan skenario gue

memang ternyata hal yang ga terlalu dibeban justru kadang jadi lebih bagus.

so ini adalah cerpen pertama gue di 2016 sekaligus cerpen gue yang baru gue buat setelah bertahun-tahun vakum menulis cerpen .




OJEK PAYUNG


Kata orang...
Kebahagiaan bagi suatu orang berarti disaat bersamaan menjadi penderitaan bagi orang lain. Jadi seperti saling melengkapi. Misalnya, ketika di suatu kelas ada seorang guru fisika yang memiliki wajah yang menyeramkan, sebagian akan mengatakan bahwa guru itu galak, sebagian ada yang mengatakan bahwa guru tersebut pintar, karena dia bisa menyampaikan materi dengan baik. Atau misalnya ada orang suka sama kucing karena katanya lucu, imut, menggemaskan. Tapi disatu sisi ada juga yang tidak menyukai kucing, entah itu karena bulunya atau kelakuan kucingnya. Atau, ada manusia yang tidak menyukai hujan, ada juga manusia yang tidak menyukai hujan. Tidak suka karena mengganggu aktivitas, membuat kantuk dan sebagainya, suka karena dapat disimbolkan menjadi sesuatu yang romantis atau hal lainnya
           
“Dek, ojek payungnya”, panggil seorang laki-laki.

Ya, Luthfi adalah bagian dari penyuka hujan bukan karena romantis, sejuk atau alasan yang terlalu picis seperti itu. Baginya hujan sama dengan rejeki. Ia mengambil pundi-pundi diantara kekesalan orang-orang terhadap hujan. Berlari dengan guyuran air langit dan suasana udara yang biru.
            “mau kemana, pak? “
            “Stasiun”
            “ini payungnya”

Luthfi menyerahkan payung warna pelangi itu, kemudian dia berlari mengikuti dari belakang. Sesekali ia bercanda dengan rekan sesama ojek payung. Menciptakan cipratan yang terkadang mengganggu orang sekitar, tapi mana peduli mereka. Bagi mereka, hujan sama dengan rejeki dan taman bermain gratis.

Sesampainya lelaki tadi di stasiun, ia memberikan dua lembar pecahan sepuluh ribu. Kemudian ia berlalu dengan tergesa-gesa. Hanya raut kecewa yang terpampang di wajah luthfi. Kemudian ia berlalu meninggalkan stasiun, mencari rejeki yang ia tak kunjung ia temukan.
Kali ini dia berlomba bersama kawannya, siapa yang lebih dahulu sampai di pasar kembali, ia berhak memberikan payung ke pemenang selama 15 menit. Tapi dengan syarat harus menghindari setiap genangan yang ada.
            “satu, dua, TIGA!”, teriak Luthfi. Keduanya berlari sembari memegang payung, membuat gerakan akrobatik untuk menghindari genangan kecil nan rapat, mempraktikan gerakan lompat jauh saat genangan besar menghadang, serta mendorong satu sama lain agar bisa memenangkan kompetisi tersebut, mereka bersaing dalam tawa. Pada akhirnya, kawannya tersebut yang menang. 15 menit ia relakan payungnya dan hanya sibuk menikmati hujan yang sepertinya tak akan kunjung reda.
Hari semakin sore dan benar saja, langit masih sibuk menumpahkan air-air langitnya yang seperti tidak akan ada habisnya. Di setiap titik sudah tercipta banji-banjir semata kaki yang makin menggangu orang-orang yang beraktivitas. Luthfi sudah mendapatkan kembali payungnya. Kini ia sibuk menawarkan jasanya di sekitar stasiun. Jam segitu adalah jam pulang kantor bagi beberapa orang. Luthfi berlalu lalang namun tak kunjung menemukan orang-orang yang mau menggunakan jasanya. Sepertinya orang-orang mulai menyadari bahwa musim hujan akan berlangsung lama sehingga mereka sudah menyiapkan payung mereka sendiri. Beberapa orang yang sudah menggunakan jasanya sore itu memberikan duit sekitar 20-30 ribu. Tapi raut wajah luthfi masih saja kecewa.
            “Dek, ojek payung” seorang lelaki pekerja kantoran memanggilnya. Ia tampak gelisah saat memanggil Luthfi. Kemudian Luthfi menghampiri lelaki itu.
            “mau kemana, pak?” tanya Luthfi.
            “Udah, ikut aja. Saya buru-buru, nanti saya bayar gede”, kata lelaki itu dengan gelisah. Disaat yang bersamaan, Luthfi melihat seorang gadis kecil sedang menangis. Dia menoleh linglung seperti mencari sesuatu.
            “dek, sini payungnya, saya buru-buru ini!” kata lelaki itu setengah berteriak. Luthfi menatap lelaki itu lalu kembali melihat gadis itu bergantian.
            “Maaf pak, cari ojek payung yang lain aja”, kata luthfi sambil meninggalkan lelaki itu
            “Dasar, dikasih rejeki malah nolak”, kata lelaki itu dari kejauhan. Luthfi tidak peduli, ia menghampiri gadis tersebut. Gadis itu terllihat ketakutan melihat Luthfi yang sedikit kumuh.
            “Kenapa dek?” tanya Luthfi. “ Jangan takut, saya ingin menolong kamu”
            “Ibu saya hilang” kata gadis itu sembari menangis. Ia menangis semakin jadi. Luthfi semakin kebingungan. Ia menoleh sekitar dan kebingungan. “ tadi saya ke pasar sama ibu saya, terus tadi ada kucing lucu. Tapi, kucing takut saya deketin, mangkanya saya kejar, terus...” gadis kecil itu tak mampu melanjutkan kata-katanya.
            “Dek, pakai payungnya. Kita ke pasar lagi, kita cari ibu kamu sama-sama, siapa tahu ibu kamu masih di pasar”, Luthfi menyodorkan payungnya.Gadis itu mengambil lalu memayungi dirinya. Saat melihat Luthfi berlari di dalam hujan, Gadis itu protes
            “ kamu kok hujan-hujanan? Ini payungan sama aku”. Luthfi tersenyum.
            “Nggak apa-apa, kamu aja dek. Saya lebih senang hujan-hujanan”. Gadis itu mengerutkan dahi. “ ini cara saya berterima kasih sama hujan, dek. Kalau nggak ada hujan, nggak bakal ada ojek payung”

Gadis itu mangut-mangut. Kemudian keduanya menuju pasar. Di dalam pasar sudah terjadi kehebohan, seorang perempuan menangis. Perempuan yang menangis tersebut tak lain adalah ibu dari gadis kecil tersebut. Luthfi membawa gadis itu ke ibunya, gadis itu berteriak memanggil ibunya dan terjadi adegan haru pertemuan kembali ibu dan anak. Orang-orang yang tadi berkerumun, kembali ke posisi masing-masing. Gadis dan ibunya tersebut berlalu. Luthfi sempat terlihat termurung, lalu gadis itu menoleh balik
            “Terima kasih, Tuan ojek payung”. Luthfi tersenyum, itu rejeki yang ia tunggu-tunggu seharian. Luthfi melambaikan tangannya lalu dibalas oleh gadis tersebut.
            Gadis itu berjalan bersama ibunya keluar dari pasar, ibunya membuka payung lalu berjalan, kemudian gadis itu justru hujan-hujanan.
            “Lia, jangan hujan-hujanan, nanti kamu sakit”

            “Nggak apa-apa ma, ini cara terima kasih Lia sama hujan. Karena hujan, Lia bisa ketemu mama lagi.” Ibu nya tersenyum haru, lalu menutup payungnya. Bersama dengan gadis kecilnya, mereka berjalan menerobos hujan menuju arah pulang.