Rabu, 17 September 2014

Orisinalitas dan Mindset

malam. gue lagi kehilangan semangat untuk membuka post ini dengan guyonan gue yang lagi berasa nggak lucu

iya, gue tiba-tiba berada di perasaan natural low...

nggak tau kenapa, nggak tau sejak kapan, dan nggak tau solusinya...

gue jadi inget, jawaban gue saat menjalani sidang film penyutradaraan 2 gue..

film gue waktu itu berkutat tentang kehidupan sosial tentang para LGBT.
dan gue ditanya "kamu dapat referensi darimana?, kamu pernah liat film dgn tema LGBT nggak?"

dan gue jawab "nggak pernah, itu murni bayangan saya, saya takut kalau saya melihat film dengan tema yang sama, tanpa sadar saya menirunya"

dengan kata lain, gue memang punya problem dengan kata2 ''orisinalitas"

gue punya pengalaman buruk dengan kata-kata plagiat

dan hal itu membuat gue takut

karena setiap gue punya ide dan udah pede dengan ide itu, tak berapa lama kemudian, gue dipertemukan dengan hal yang sangat mirip dengan ide dan gagasan gue itu dan akhirnya gue mengurungkan niat gue untuk mempublishnya ke temen-temen gue.

makin lama, gue makin depresi saking ketidak adanya orisinalitas lagi. sementara gue punya obsesi pengen menemukan hal yang nanti bila di publish, org akan mengingat bahwa hal itu 'nabila banget'

dan ketakutan gue berikutnya ketika mempublish sesuatu dengan pedenya, orang-orang akan bilang ''cih, yang kayak beginian kan udah pernah...dasar plagiat"..

hal itu yang menghalangi gue dengan suksesnya, terutama ketika membuat cerita buat tugas-tugas pembuatan film.

dan akhirnya gue memutuskan untuk tidak melihat karya orang lain (jahat banget ya gue???) maksudnya setiap membuat sesuatu, gue lebih baik membuatnya dengan imajinasi gue aja.... khayalan, tanpa referensi...tanpa panduan apapun karena pemikiran gue waktu itu "melihat karya orang lain membuat gue tanpa sadar meniru karya tersebut"

selain itu, alasan gue untuk tidak melihat karya orang lain adalah menghindari perasaan minder yang paling sering menghampiri gue. kalau gue udah minder, produktivitas otak gue terganggu.

bayangin, gue bisa nggak nulis untuk waktu yang panjang hanya gara2 minder sama karya orang lain.

gue bukan tipe yang 'disakitu justru jadi semangat', tapi 'disakiti, ya gue hancur'

sampai ketika smester 4 lalu, gue disadarkan betapa sudah tidak adanya lagi orisinalitas di dunia ini, yang ada hanya inovasi dari yang sudah ada. dan ketika sudah menjalani kelas penyiar dan banyak obrolan dengan dua temen gue di kampus, serta sahabat SMA gue, gue baru menyadari betapa minder itu cuma mindset gue yg udah parah meracuni otak gue. dan entah mengapa kepercayaan diri gue mulai terbentuk setelah gue mendapat pencerahan di Kelas penyiar

meskipun kadang-kadang perasaan itu datang lagi, tapi gue seperti diberi kekuatan untuk menghadapinya.

gue sekarang belajar melihat karya orang lain dari sudut pandang yang beda.
gue belajar melihat hal-hal yang membuat gue minder dan merusak perasaan gue, tapi sekali lagi, dari sudut pandang yang beda sehingga gue bisa tau hal hebat yang nggak bisa gue dapat kalau gue melihatnya denga sudut pandang gue terdahulu (dikuasai rasa minder)

dan gue belajar melihat orang yang berusaha membuat gue down dengan...menghindarinya...
hahaha utk yang satu ini, gue masih belum punya keberanian. tapi gue belajar kok...setidaknya orang yg buat gue down menyadarkan gue bahwa nggak semua orang bisa gue puaskan (hayooo pada mikir yang aneh2 pastiii).

pasti ada orang yang ga suka sama gue
pasti ada orang yang tadinya suka sama gue, tapi jd nggak suka atau sebaliknya
pasti ada orang yg suka sama gue
pasti.....banyak kemungkinan







kebiasaan... melebar kemana-mana.... btw gue nulis ini rada nggak fokus, nggak tau, otak gue pusing, mangkanya gue katakan di awal, gue lagi natural low.
secepatnya gue edit deh tulisan ini

 intinya seperti biasa, gue cuma pengen menulis, sebagai terapi gue (dalam artian sebenarnya) ..sebagai ajang gue bercerita..sebagai ajang untuk menyembuhkan seuatu yang nggak beres dengan otak gue




BTW, besok kelompok praktika ditentukan...dan gue deg-degan..

Sabtu, 13 September 2014

teori esteh (sebuah kisah dari warung bu hasan)

Well, ketemu again sama gue yang bahasa inggrisnya masih setengah-setengah hingga bergaya ngomong ala cinta laura tapi abis itu gue ditimpukin dengan sekarung tomat dari tetangga sebelah... (bercanda ding...)

Iya, ketemu sama gue nabilah, yang lagi-lagi sedang menikmati semester 5 yang mulai menampakkan kekejamannya, dengan seiring berlalunya minggu pertama.

Horreeee gue mau praktika... (sebulan kemudian ) .....huft...Praktika...

Lupakan sejenak perihal praktika, kali ini gue mau bahas sesuatu lucu yang gue dapatkan hari ini ketika sesosok wanita  berambut pendek berbaju bunga-bunga bercelana coklat datang...

Untung aja bunganya nggak ditidurin syahrini ya.. kasian.. badannya kecil kalo ketimpa syahrini... (kan, janji gue untuk tidak membawa bercandaan tentang syahrini telah gue langgar dengan suksesnya...emang paling enak bercanda tentang beliau...hahahha maap ya mbak syahrini dan wal khusus , maap ya bang fathir, hahahhaha)

Hahaha, wanita yang gue maksud adalah juju, temen kampus gue yang sudah terlebih dahulu merasakan kejamnya semester 5. Tugas yang kata mpi ‘seminggu satu buku’ memang belum dirasakannya, tapi membahas sinema nasional yang kata juju ‘belum bisa terdenifisikan’ adalah tugas berat perdananya... semangat ya ju, aku tahu kamu pasti bisa... ku doakan semoga kamu makin....tegar menghadapi tugas demi tugas itu (oke gue ngomong berasa nggak ngaca kalo gue juga bentar lagi akan bernasib sama dengan juju)

Jadi, tadi gue lagi makan sama dian, batara dan mpi, tiba-tiba wanita ini datang. Padahal dia nggak ada jadwal kuliah hari ini. Ckckck, anak yang rajin sekali ya
(tapi ternyata dia ada liputan...huft, ga jadi gue puji deh). Nah dia yang datang belakangan, jadi makannya belakangan. Terus dengan bujuk rayu gue yang paling dahsyat, gue meminta dia untuk traktir es teh manis (yaelah).

Singkat cerita, gue pesen esteh manis, juju pesen esteh tawar.
Dan disinilah kekonyolan terjadi, kita menemukan ‘teori es teh’
Ketika pesanan minuman kita datang, kita diberikan dua buah esteh yang ga jelas yang mana yang manis, yang mana yang tawar, atau bisa jadi mas-mas yang bawa esteh yang ketularan manis.
Gue bertanya, dan mas nya kebingungan (apalagi gue tanyai teori phytagoras, mas nya nanti pingsan di tempat), dan mas nya udah mau balik buat nanyain yang bikin
Lalu juju dengan sigapnya mengatakan ‘’tidak usah mas, saya tau”
Bayangan gue ketika juju mengatakan hal itu layaknya sherlock holmes yang telah memecahkan suatu misteri.
Dan dengan penuh muka bertanya-tanya ‘’juju, darimanakah kamu mengetahui hal itu?”
“dari sendok, saudari nabilah, esteh yang menggunakan sedotan didampingi sendok, berarti bekas mengaduk teh tersebut dengan gula, sementara yang satu tidak ada sendok”
Dan gobloknya gue baru sadar hal itu
Jadi sebenarnya, juju yang kelebihan pinter atau gue yang kelewatan tulalitnya?
Padahal idola gue aoyama gosho (truuuuuuusss....)
Padahal koleksi komik detective conan gue udah selemari kecil (laluuuuuuuu....)
Padahal gue udah ikut test online ‘seberapa detektifkah kamu’ dan skor gue tinggi.....
Tunggu...
Test itu akurasinya nol persen deng...

Huuufffft, Tuhaaaaan kenapa aku tak punya bakat detektif...


Sekian...berhubung cerita udah melebar kemana-mana.....
Kebiasaan...

hahahahaah

Rabu, 10 September 2014

sebuah terapi dari si pemilik blog untuk dirinya sendiri

Nulis lagi ah


belakangan gue merasakan hal yang aneh dalam tubuh gue... bukan secara fisik, melainkan secara perasaan. bukan galau, tapi sesuatu yang beda dari apa yang selama ini gue rasakan

mari gue definisikan sebagai perasaan "merasa DEWASA"

sotoy marotoy banget gue bilang diri gue udah dewasa, tingkah laku masih kayak anak bocah begini. tapi belakangan ada sesuatu yang gue rasa sebagai 'pengontrol' semuanya. 

ya biasanya, emosi gue meluap-luap kalo lagi seneng, sedih, marah, atau apapun itu, pasti orang selalu mengatakan 'Nabilah lebay iiiih"

cucok deh yang ngomong, tapi iya gue merasa lebay itu bagian dari hidup gue

tapi, semakin kesini, seperti ada sesuatu yang membuat gue seperti terkendali. setiap gue berbicara dengan orang atau merasakan sesuatu, sudut otak gue langsung memerintahkan penyaringan kadar luapan emosi yang akan keluar.

lalu gue berfikir, apakah ini yang dinamakan proses kedewasaan?

dari dulu gue selalu takut untuk berproses menjadi dewasa, gue melihat dunia dewasa tidak seindah dunia anak-anak, dunia sekolah. karena yang gue liat disekitar gue adalah para orang dewasa yang tak sebahagia seperti anak-anak, bahkan seperti yang gue liat di sinetron

iya deh ketauan dulu gue doyan nonton tersanjung dan cinta fitri.. 

jadi puncaknya ketika gue SMA, gue merasa seperti ingin memperlambat proses kedewasaan gue, setiap puisi, cerita yang gue tulis masa itu adalah saksi betapa tidak inginnya gue menuju dewasa. tapi waktu menjalankan tugasnya dengan sangat baik, gue lulus sekolah, gue kuliah. dan kuliah menyenangkan hanyalah semester 1, karena masih ada jiwa SMA nya, setelahnya.... i didnt feel anything.. tugas, kuliah, dan kebrengsekan dunia yang sesungguhnya mulai terlihat. apa yang gue takutkan tentang 'menjadi dewasa' perlahan mulai terbukti.

tapi sepertinya, gue merasa tak buruk-buruk amat seperti yang gue takutkan. memang dunia itu kejam...PARAH!!! tapi cepat atau lambat, itulah kenyataan. satu-satunya jalan ya menikmatinya.

"cara menghilangkan rasa takut dengan cepat adalah melakukan hal kita takutkan itu"

itu kata mutiara gue dapat di kelas penyiar dari bang sahil. dan entah kenapa gue merasa mulai hidup. merasa kayak ketakutan gue mulai sirna, dan seiring dengan sirnanya rasa takut itu, maka otak gue mulai berfikir dengan jernih dan menyiapkan filter di setiap jalur luapan emosi yang akan keluar.

gue merasa ga ada beban lagi. bisa jujur ama diri gue sendiri.

ya gue nggak mau jadi sok motivator ala-ala mario teguh, tapi gue rasa saat ini, gue lagi dititik dimana gue merasa hebat.

gue juga gak tau kedepannya akan ada hal apa yang bakal gue hadapi, tapi yang pasti, gue selalu meminta ke Allah "tetaplah membuat saya merasakan seperti saat ini, bahkan kalau bisa lebih baik, apapun yang Engkau berikan, mungkin yang terbaik, Thanks, and I love you, Allah"

*sok lu bawa-bawa Tuhan*

hahaha iya sih, jujur, ibadah aja kadang masih bolong-bolong. tapi dari situ justru gue sadar, gue jarang ibadah aja, udah dikasih kebahagiaan sedikit demi sedikit, apalagi jadi anak rajin, minimal solat 5 waktu deh. mungkin bisa dikasih lebih baik
gue juga masih berproses untuk memperbaiki hal itu

dan gue pernah ngomong ini ke juju "sepertinya selama ini gue kurang bahagia karena kurang bersyukur dan jarang dekat sama Tuhan deh ju, liat lu deh ju, lu segimanapun teman-temanlu, lu tetep bisa jaga iabdah lu, gue malu sama lu, ju. gue merasa selalu kurang, gue merasa selalu iri sama org2, gue selalu merasa kenapa gue nggak bisa jadi kayak mereka, tapi ju, lu justru kadang yang nyadarin gue juga ada yang unik"

dansetelah gue baca postingan ini, sepertinya makin mlebar kemana-mana... iya gue merasa ini seperti terapi buat gue... selama ini jangankan buat jujur ke org lain, jujur ke diri sendiri aja susah. jujur dengan tulisan aja enggak, dan melalui postingan ini, gue pengen belajar buat jujur. Inilah gue!

REINKARNASI

holla...pembaca..

gue selalu merasa bermasalah dengan kata pengantar gue yang semakin lama gue baca, semakin membuat gue geli-geli sendiri.

tapi yaa kadang nyengir2 juga sih

come back to me, with nabilah yang sedang menikmati kesendirian di sevel yang udah lama nggak gue rasakan. FYI : sevel cikini yang mempunyai nickname wifi biznet 'Cikini bombay blue"

(sejujurnya samapi sekarang, nama bombay blue itu jadi pertanyaan buat gue, ada apa dengan bawang bombay dan warna biru??)

forget it...i wanna tell a story TODAY

jadi, kamis kemarin gue pergi ke sekolah lama gue. SMA 65, karena ingin nonton adik gue tanding basket. Iya, dia kini sekolah di SMA 65. otomatis gue kembali melihat kesibukan anak-anak SMA.

dan hal itu membuat gue rindu.

gue duduk dengan kemeja pink dan celana jins abu-abu sementara sisanya bernuansa putih abu-abu.
memang jaman SMA, gue bukan orang yang sangat aktif, dan paling males ikut kegiatan selain belajar.

and actually i regret about that

lupakan penyesalan gue, yang mau gue ceritakan disini, gue merasa seperti menjadi bagian dari SMA itu sendiri. beberapa kali gue hampir memanggil nama orang yang gue kenal pas SMA.

ada seseorang mirip banget adek kelas gue namanya mawar dan beberapa kali gue hampir memanggil dia. setelah itu gue sadar, gue bukan anak SMA lagi

ada juga yang mirip temen gue namanya Banni, dan sekali lagi gue merasa terkecoh
aa juga yang mirip adek kelas gue namanya sarah dwita, dan kegoblokan gue terjadi, gue memanggil dia
otomatis dia nggak nengok dong, dan gue cuma malu sendiri.
dan abis itu gue melihat kesekeliling, kenapa wajah mereka terasa familiar seperti masa SMA gue dulu.

lalu terlintalah satu fikiran dalam otak gue : REINKARNASI

bukan dalam artian sesungguhnya, tapi ya, wajah-wajah mereka banyak yang mirip dengan penghuni SMA 65 di masa gue. jadi yang terjadi, gue berasa kayak SMA lagi.

lalu bertemu guru olahraga gue namanya Pak jumino, makin berasa banget gue masih di 65, seolah kayak sejauh apapun nanti gue berkarir, ada bagian dalam diri gue yang nggak bisa lepas dari 65.

dan ketika ngeliat adek gue tanding,
diseberang lapangan gue melihat pelatih mereka yang tak lain dan tak bukan adalah kakak dan adik kelas gue jaman SMA. disitulah gue sadar, 2 tahun gue meninggalkan masa SMA, sudah banyak yang berubah, gue inget dulu gue masih latihan bareng sama mereka, tapi justru kini mereka jadi pelatih, mungkin mereka sudah melewati tahun-tahun setelah SMA dengan berbagai macam kejadian, tapi ketika memasuki lingkup SMA kembali, mereka kembali sama seperti dulu, hanya beda status. sama kayak gue

i feel like use my uniform, be part of them, and being students again.

muter-muter ya gue ngomongnya

intinya, perasaan kemarin itu wah banget deh. mendengar bercandaan anak SMA, mereka seliweran sibuk dengan acara, trus yang cwek suka kesel trus mukulin temen cowoknya dengan genit, kadang mukulnya main-main, kadang mukulnya serius...cuma anak cowok sekeras apapun dipukul cewek, kayaknya strong banget. (jadi inget udah berapa anak cowok dari SD ampe SMA jadi korban pukulan maut gue). trus gosip anak-anak SMA yang cheesy banget...

dan gue boleh bilang, masa SMA itu masa yang terbaik yang pernah gue rasakan hingga saat ini..

meskipun gue sempet merasa, gue nggak memberi kontribusi apapun buat SMA gue. tapi

ya i'm happy to be one of them.



Selasa, 02 September 2014

proses

hollaaaaaaa, kembali lagi sama gueee yang baru aja resmi menjadi anak mayor skenario setelah melewati perjuangan yang nggak panjang-panjang amat dibandingkan perjuangan mayor lain, terutama mayor kajian sinema (apa itu picasso????? astaga otak gue kram 7 kelokan)

jadi selamat buat temen-temen gue yang udah dapat mayor, selamat menjadi gila bersama praktika satu semester ini (huffft gue juga)..

catatan : mayor = penjurusan kuliah. (kalo yang belum tau)

well kan otak gue tiba2 short term memory, jadi lupa mau bahas topik apaan


oh iya, gue baru aja menghabiskan banyak obrolan seru bersama 2 kawan gue. inti dari yang kita obrolin tadi adalah kita sedang terperangkap dalam 'proses'

sadar nggak sih dari dulu kita udah berproses, kita belajar terus? tujuannya apa?

biar bisa melakukan hal yang lebih banyak lagi kan?

jadi bisa dikatakan, lu lagi dijalan proses untuk menemukan pilihan-pilihan proses yang lebih luas tapi lu cuma dikasih kesempatan satu kali milih jalan, karena seterusnya lu nggak bisa kembali ke titik awal

tapi bagaimana kalau titik awal itu hanya ilusi. bagaimana ujung jalan yang selama ini jadi tujuan lu sebenarnya adalah tempat berdiri lu di awal perjalanan?

makin kram kan otak gue kalo mikirin hal itu.

nah, seseorang pernah bilang. ''terkadang bagian terhebat dalam suatu pencapaian adalah bagian proses?"

oke coba gue balik "seandainya kita jadikan proses itu jadi tujuan kita, apakah kita masuk dalam bagian proses? karena proses sendiri itu tujuan kita

pusing kan???

nah, entah kenapa barusan otak gue bilang, emang, jalan itu banyak, jalan untuk berproses itu banyak banget. tapi sekarang kembali kepada ''seberapa iklas lo menyerahkan jiwa raga lo untuk proses yang lo pilih dengan tujuan proses itu yang masih belum jelas?"

kan makin bingung

iya nih gue ngetiknya tengah malam... ngantuk tapi pengen ngetik...

jadi ngablu tulisannya..

maksud iklas disini, suatu hari kalo lo dikecewain sama proses lu, atau apa yang lu harap dari proses itu tak seperti yang lu harapkan? apa lo iklas utk nerima itu dan memulai lagi dari nol?

kalo lo iklas dan have fun, thats the right decision

klo nggak, buat aa lo jalanin hal yang lo nggak suka?

hahaha this articel will be edited soon.. because i'm sleepy..



Rabu, 27 Agustus 2014

Sekilas pengisi blog

Melirik kembali sebuah blog yang ditinggal oleh pemiliknya. Rumah saja kalau ditinggal penghuninya selama 40 hari lebih, akan datang 'penghuni' penggantinya. Apalagi Hati ya? (woooii gue ngomongin blog, kenapa jadi nyambung ke hati)

kebiasaan gue belakangan ini adalah membuat joke garing yang berhubungan dengan hati. seperti yang gue lakukan barusan. Yap, its so mainstream. soalnya gue tahu itu udah banyak yang melakukan hal itu. Diawali oleh booming nya lawakan ngenes yang dipopulerkan oleh Raditya dika yang makin kesini makin huft aja, hingga Bernard Batubara yang makin buat pembacanya makin gigit-gigit bantal.

Dan lama-lama gue memperhatikan di Timeline twitter yang dipenuhi oleh kegalauan dan lawakan ngenes serupa dengan sentuhan mereka sendiri-sendiri... well Happy nyesek deh kalau gitu.


Balik ke diri gue. iya, lawakan seputar hati yang nyesek binti garuk-garuk tanah itu kadang menyindir diri gue sendiri. tapi yaa namanya hidup, dimana omongan akan selalu terasa lebih mudah daripada menjalankannya

just it. i just wanna write a story, and that's my story for today.



Selasa, 20 Mei 2014

ketika mama berkata cinta..

Nyokap sedang keganjringan menyisipkan kata cinta disetiap kalimat yang dia ucapkan..

''Selamat pagi Cinta...''
''Hai Cintaaa...''
''sayangku Cinta''
''ini cinta mama, cinta 1, cinta 2, dan cinta 3''
''mama mau masak tumis cah kang mas tercinta''
''cintanya udah diaduk-aduk, nanti kadar galaunya kurang greget, kasih sedikit bumbu cinta''

ya, begitulah....

sampe-sampe gue, uci dan luthfi dikasih nama cinta satu, cinta dua dan cinta tiga.. sayangnya nyokap gue nggak sudi buat membiayai tumpengan untuk perayaan pergantian nama gue, sehingga nama gue tetap nabilah. nama uci tetap uci dan nama luthfi tetap cinta....huft!!!

ketika nyokap berkata cinta, maka gue berkata ''toloooong''

*efek hafalan monolog teater.....

garing? ya begitulah gue...nggak bakat ngelucu sih




PS : nih bonus monolog yang buat gue berteriak TOLOONG dalam artian yang sesungguhnya