malam. gue lagi kehilangan semangat untuk membuka post ini dengan guyonan gue yang lagi berasa nggak lucu
iya, gue tiba-tiba berada di perasaan natural low...
nggak tau kenapa, nggak tau sejak kapan, dan nggak tau solusinya...
gue jadi inget, jawaban gue saat menjalani sidang film penyutradaraan 2 gue..
film gue waktu itu berkutat tentang kehidupan sosial tentang para LGBT.
dan gue ditanya "kamu dapat referensi darimana?, kamu pernah liat film dgn tema LGBT nggak?"
dan gue jawab "nggak pernah, itu murni bayangan saya, saya takut kalau saya melihat film dengan tema yang sama, tanpa sadar saya menirunya"
dengan kata lain, gue memang punya problem dengan kata2 ''orisinalitas"
gue punya pengalaman buruk dengan kata-kata plagiat
dan hal itu membuat gue takut
karena setiap gue punya ide dan udah pede dengan ide itu, tak berapa lama kemudian, gue dipertemukan dengan hal yang sangat mirip dengan ide dan gagasan gue itu dan akhirnya gue mengurungkan niat gue untuk mempublishnya ke temen-temen gue.
makin lama, gue makin depresi saking ketidak adanya orisinalitas lagi. sementara gue punya obsesi pengen menemukan hal yang nanti bila di publish, org akan mengingat bahwa hal itu 'nabila banget'
dan ketakutan gue berikutnya ketika mempublish sesuatu dengan pedenya, orang-orang akan bilang ''cih, yang kayak beginian kan udah pernah...dasar plagiat"..
hal itu yang menghalangi gue dengan suksesnya, terutama ketika membuat cerita buat tugas-tugas pembuatan film.
dan akhirnya gue memutuskan untuk tidak melihat karya orang lain (jahat banget ya gue???) maksudnya setiap membuat sesuatu, gue lebih baik membuatnya dengan imajinasi gue aja.... khayalan, tanpa referensi...tanpa panduan apapun karena pemikiran gue waktu itu "melihat karya orang lain membuat gue tanpa sadar meniru karya tersebut"
selain itu, alasan gue untuk tidak melihat karya orang lain adalah menghindari perasaan minder yang paling sering menghampiri gue. kalau gue udah minder, produktivitas otak gue terganggu.
bayangin, gue bisa nggak nulis untuk waktu yang panjang hanya gara2 minder sama karya orang lain.
gue bukan tipe yang 'disakitu justru jadi semangat', tapi 'disakiti, ya gue hancur'
sampai ketika smester 4 lalu, gue disadarkan betapa sudah tidak adanya lagi orisinalitas di dunia ini, yang ada hanya inovasi dari yang sudah ada. dan ketika sudah menjalani kelas penyiar dan banyak obrolan dengan dua temen gue di kampus, serta sahabat SMA gue, gue baru menyadari betapa minder itu cuma mindset gue yg udah parah meracuni otak gue. dan entah mengapa kepercayaan diri gue mulai terbentuk setelah gue mendapat pencerahan di Kelas penyiar
meskipun kadang-kadang perasaan itu datang lagi, tapi gue seperti diberi kekuatan untuk menghadapinya.
gue sekarang belajar melihat karya orang lain dari sudut pandang yang beda.
gue belajar melihat hal-hal yang membuat gue minder dan merusak perasaan gue, tapi sekali lagi, dari sudut pandang yang beda sehingga gue bisa tau hal hebat yang nggak bisa gue dapat kalau gue melihatnya denga sudut pandang gue terdahulu (dikuasai rasa minder)
dan gue belajar melihat orang yang berusaha membuat gue down dengan...menghindarinya...
hahaha utk yang satu ini, gue masih belum punya keberanian. tapi gue belajar kok...setidaknya orang yg buat gue down menyadarkan gue bahwa nggak semua orang bisa gue puaskan (hayooo pada mikir yang aneh2 pastiii).
pasti ada orang yang ga suka sama gue
pasti ada orang yang tadinya suka sama gue, tapi jd nggak suka atau sebaliknya
pasti ada orang yg suka sama gue
pasti.....banyak kemungkinan
kebiasaan... melebar kemana-mana.... btw gue nulis ini rada nggak fokus, nggak tau, otak gue pusing, mangkanya gue katakan di awal, gue lagi natural low.
secepatnya gue edit deh tulisan ini
intinya seperti biasa, gue cuma pengen menulis, sebagai terapi gue (dalam artian sebenarnya) ..sebagai ajang gue bercerita..sebagai ajang untuk menyembuhkan seuatu yang nggak beres dengan otak gue
BTW, besok kelompok praktika ditentukan...dan gue deg-degan..
iya, gue tiba-tiba berada di perasaan natural low...
nggak tau kenapa, nggak tau sejak kapan, dan nggak tau solusinya...
gue jadi inget, jawaban gue saat menjalani sidang film penyutradaraan 2 gue..
film gue waktu itu berkutat tentang kehidupan sosial tentang para LGBT.
dan gue ditanya "kamu dapat referensi darimana?, kamu pernah liat film dgn tema LGBT nggak?"
dan gue jawab "nggak pernah, itu murni bayangan saya, saya takut kalau saya melihat film dengan tema yang sama, tanpa sadar saya menirunya"
dengan kata lain, gue memang punya problem dengan kata2 ''orisinalitas"
gue punya pengalaman buruk dengan kata-kata plagiat
dan hal itu membuat gue takut
karena setiap gue punya ide dan udah pede dengan ide itu, tak berapa lama kemudian, gue dipertemukan dengan hal yang sangat mirip dengan ide dan gagasan gue itu dan akhirnya gue mengurungkan niat gue untuk mempublishnya ke temen-temen gue.
makin lama, gue makin depresi saking ketidak adanya orisinalitas lagi. sementara gue punya obsesi pengen menemukan hal yang nanti bila di publish, org akan mengingat bahwa hal itu 'nabila banget'
dan ketakutan gue berikutnya ketika mempublish sesuatu dengan pedenya, orang-orang akan bilang ''cih, yang kayak beginian kan udah pernah...dasar plagiat"..
hal itu yang menghalangi gue dengan suksesnya, terutama ketika membuat cerita buat tugas-tugas pembuatan film.
dan akhirnya gue memutuskan untuk tidak melihat karya orang lain (jahat banget ya gue???) maksudnya setiap membuat sesuatu, gue lebih baik membuatnya dengan imajinasi gue aja.... khayalan, tanpa referensi...tanpa panduan apapun karena pemikiran gue waktu itu "melihat karya orang lain membuat gue tanpa sadar meniru karya tersebut"
selain itu, alasan gue untuk tidak melihat karya orang lain adalah menghindari perasaan minder yang paling sering menghampiri gue. kalau gue udah minder, produktivitas otak gue terganggu.
bayangin, gue bisa nggak nulis untuk waktu yang panjang hanya gara2 minder sama karya orang lain.
gue bukan tipe yang 'disakitu justru jadi semangat', tapi 'disakiti, ya gue hancur'
sampai ketika smester 4 lalu, gue disadarkan betapa sudah tidak adanya lagi orisinalitas di dunia ini, yang ada hanya inovasi dari yang sudah ada. dan ketika sudah menjalani kelas penyiar dan banyak obrolan dengan dua temen gue di kampus, serta sahabat SMA gue, gue baru menyadari betapa minder itu cuma mindset gue yg udah parah meracuni otak gue. dan entah mengapa kepercayaan diri gue mulai terbentuk setelah gue mendapat pencerahan di Kelas penyiar
meskipun kadang-kadang perasaan itu datang lagi, tapi gue seperti diberi kekuatan untuk menghadapinya.
gue sekarang belajar melihat karya orang lain dari sudut pandang yang beda.
gue belajar melihat hal-hal yang membuat gue minder dan merusak perasaan gue, tapi sekali lagi, dari sudut pandang yang beda sehingga gue bisa tau hal hebat yang nggak bisa gue dapat kalau gue melihatnya denga sudut pandang gue terdahulu (dikuasai rasa minder)
dan gue belajar melihat orang yang berusaha membuat gue down dengan...menghindarinya...
hahaha utk yang satu ini, gue masih belum punya keberanian. tapi gue belajar kok...setidaknya orang yg buat gue down menyadarkan gue bahwa nggak semua orang bisa gue puaskan (hayooo pada mikir yang aneh2 pastiii).
pasti ada orang yang ga suka sama gue
pasti ada orang yang tadinya suka sama gue, tapi jd nggak suka atau sebaliknya
pasti ada orang yg suka sama gue
pasti.....banyak kemungkinan
kebiasaan... melebar kemana-mana.... btw gue nulis ini rada nggak fokus, nggak tau, otak gue pusing, mangkanya gue katakan di awal, gue lagi natural low.
secepatnya gue edit deh tulisan ini
intinya seperti biasa, gue cuma pengen menulis, sebagai terapi gue (dalam artian sebenarnya) ..sebagai ajang gue bercerita..sebagai ajang untuk menyembuhkan seuatu yang nggak beres dengan otak gue
BTW, besok kelompok praktika ditentukan...dan gue deg-degan..