Senin, 17 April 2017

Tentang Penulis yang Bosan menulis

Hallo
Selamat Tahun Baru (Plis ya bil, ini sudah pertengahan April -_- )

Hehehe, seperti biasa
Nabilah selalu out of plan dalam hal meningkatkan kuallitas diri.
cuma bisa berencana dan rencana tersebut berakhir hanya menjadi catatan asal disebuah buku atau blonk note. Rencana untuk serius terhadap blog ini (nggak serius-serius amat sih!) dari awal tahun, tertunda hingga postingan blog sebelum ini.

Tapi nggak sepenuhnya diluar perencanaan, hanya saja beberapa tulisan yang sudah dibuat dari jauh sebelum tahun baru, banyak yang berakhir menjadi draft di blog ini. Ada banyak alasan, entah tulisannya terlalu sensitif, takut menyinggung beberapa pihak, ada yang terlalu curhat dan akhirnya nabil berfikir 'kayaknya gue ngenes banget ceritain hal ini di blog'

dan beberapa rencana lain yang masih on progress, termasuk proyek pribadi.

well, selama empat bulan semenjak tahun baru. Gue sudah mengalami banyak  hal yang cukup mengubah hidup gue. Mulai dari masalah keluarga, masalah finansial bahkan masalah percintaan. 

Hahaha, Nabil bisa juga ya mengalami masalah percintaan (damn!)

well, beberapa masalah sedikit banyaknya menaikan level stress dan tekanan dalam hidup gue (Lebay), dan awalnya gue mau terapi via blog ini. Tapi mungkin karena banyak yang terlalu pribadi, gue mengurungkan niat itu.

Nah. Gara-gara itu juga, beberapa tulisan yang merupakan proyek pribadi gue (dan nggak ada hubungannya dengan masalah gue) juga ketunda karena ke-engganan gue dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan. Boleh dibilang, gue lagi dititik bosan menulis. 



Penulis kok bosan nulis ya????



percaya nggak percaya, hal itu sudah gue rasakan semenjak berakhirnya mata kuliah 'Penulisan Kreatif', yakni sekitar pertengahan 2015. Gue juga heran, seharusnya selepas mata kuliah ini, at least kemampuan menulis gue meningkat dong. apalagi dosennya bukan sembarang orang. 


Bapak Seno Gumira Ajidarma.


Siapa yang nggak kenal dia? lu buka Google, nama dia ada di pencarian paling atas. Gue sangat mengakui kelasnya menyenangkan. Setiap minggu harus mengumpulkan essay, membuat tulisan dengan iringan musik yang kadang-kadang anti mainstream. Bahkan banyak hal yang bisa gue pelajari dari beliau, bukan hanya tentang menulis, tapi tentang hal lainnya. Nah harapan gue selepas kelas ini, kemampuan menulis gue bisa berkembang menjadi lebih baik.

tapi yang gue rasakan justru sebaliknya. bahkan semenjak itu gue seperti mempertanyakan kembali bakat gue yang satu itu. yap gue menyebutnya bakat karena boleh dibilang gue memang memiliki minat menulis sejak kecil, bahkan nilai karangan gue selalu diatas rata-rata.

tapi saat ini, gue seolah kehilangan bakat itu. gue seolah kehilangan gairah untuk menulis. berapa kalipun gue mencoba memperbaiki atau memaksakan menulis, gue cuma menemukan jalan buntu. Bahkan hingga saat ini.

hal inilah yang boleh gue katakan sebagai penyebab nomor satunya gue gagal seminar saat semester 7. Hal ini juga penyabab nomor satu semua rencana gue yang berhubungan dengan menulis selalu ketunda. Gue seperti lelah menulis.

Tapi gue sadar, seharusnya saat ini justru gue nggak boleh lelah. justru gue baru mau memulai. Harusnya gairah gue sama besarnya dengan saat pertama kali gue menyadari gue menyukai kegiatan menulis. bahkan gue pernah janji dengan sahabat gue saat SMA, apapun yang terjadi, gue harus tetap menulis. Dia yang menurut gue kemampuan sastra dan tutur katanya diatas gue, bahkan mengatakan bahwa suatu hari nanti, gue akan menjadi maestro kata-kata melebihi dirinya (jadi inget tulisan terakhir yang dia kasih ke gue #Mewek)

Tapi ya begitulah gue
saat ini jenuh dengan menulis.
mungkin bukan jenuh, tapi lebih kepada menolak untuk menulis yang bukan diri gue.

Hahah omong kosong kan? Justru harusnya gue nggak boleh milih-milih dalam menulis, apalagi saat ini, menulis akan menjadi pekerjaan gue. Harusnya gue siap dengan semua pesanan, semua permintaan tulisan. Toh, nggak semua orang kan bisa se pemikiran dengan gue. Belum tentu kebutuhan pasar sesuai dengan apa yang sebenernya ingin gue tulis.

Tapi...
entahlah
apa yang salah sama diri gue. ini seperti bukan gue.
gue bahkan mencoba membuka tulisan gue yang lampau, siapa tahu gue bisa memotivasi diri gue untuk menulis lagi. tapi yang ada gue hanya menemukan diri gue iri pada tulisan masa lampau gue.

disana gue bebas berekspresi
disana tulisan gue jauh lebih ceria (cenderung konyol, coba aja buka beberapa post awal di blog ini)
disana gue nggak berfikir apa kata orang tentang tulisan gue
yang penting nulis dan nulis
yang penting isi otak gue tersalurkan dalam sebuah tulisan.
seperti tulisan ini.

Gue udah mencoba berbagai hal untuk menghilangkan kejenuhan ini, misalnya :
1. berhenti sejenak untuk menulis, siapa tahu nantinya gue akan rindu menulis
2. mencoba menjadikan sosial media sebagai media baru untuk menulis
3. merencanakan rutinitas di blog ini
4. bodo amat nggak mau tahu, harus nulis minimal satu kalimat perhari

tapi rasa jenuh itu tak kunjung hilang
Ketakutan gue cuma satu, kemampuan bertutur kata gue menghilang karena nggak pernah gue asah karena kejenuhan ini.

gue nggak mau itu.

dan nggak hanya dalam kegiatan menulis. membaca buku pun begitu. ya kurang lebih kasusnya sama dengan menulis. gue jenuh membaca buku.








By the way, gue cukup takjub menyadari bahwa tulisan ini cukup panjang, mengingat kejenuhan gue biasanya jauh lebih kuat. semoga ini merupakan langkah bagus untuk pelan-pelan menghilangkan kejenuhan itu dan menerima kenyataan bahwa mulai saat ini gue akan jarang menulis sesuai dengan apa yang gue mau dan kehendaki (re : banyak menulis karena pesanan kllien)

dan sampai detik ini gue masih berjuang untuk jatuh cinta kembali dengan menulis (juga membaca buku) karena dua hal itu yang akan menuntun gue dalam menjalani karir gue kedepannya


Nabilah, selamat jatuh cinta lagi.



(p.s : selamat, kamu berhasil menyelesaikan tulisan ini)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar