Senin, 18 Desember 2017

Sepucuk Surat rahasia untuk lelaki yang ku panggil 'Papa'

Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian dan mental, aku berani menuliskan ini. aku takkan tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tetapi biarkan sekali ini saja, aku mengeluarkan isi fikiran dan hatiku tentang dia. Melalui surat ini


Kepada engkau yang ku panggil Papa
Assalamualaikum, Pa. Apa Kabar?
Sudah setahun lebih papa menghilang tanpa ada kabar. Setiap kabar yang putri dengar hanyalah berasal dari kabar angin yang kebetulan bertiup kencang hingga ke telinga Putri.

Putri dengar papa baik-baik saja saat ini? kalau memang iya Alhamdulillah.
Pa, putri nggak tahu kenapa putri menuliskan surat ini, tetapi putri cuma mau mengatakan.

Putri Rindu papa, amat sangat.
tapi kalau ditanya putri mau ketemu papa atau nggak?
Nggak.
putri tetap nggak mau ketemu papa. bagi putri, lebih baik putri tersiksa akan rasa rindu ini, dibandingkan harus bertemu dengan papa. karena putri takut ada hal yang membuat putri jauh lebih sakit hati saat bertemu dengan papa.

kita itu aneh ya pa?
putri yakin, selintas pasti ada terbesit di fikiran papa kalau papa rindu putri
tapi mungkin kita sama keras kepalanya
mungkin ketakutan kita pun sama.

atau
mungkin alasan kita sederhana
kita hanya ingin berhenti saling menyakiti
maka rasa sakit kerinduan jauh lebih baik dari pada pertemuan yang menghadirkan luka lama yang mungkin saat ini sedang berusaha kita sembuhkan
iya kan, pa?

ya. mungkin....

putri nggak tahu apa surat ini akan papa baca atau tidak
tapi setidaknya cara ini jauh lebih baik
dari pada pertemuan kita.

sekian
Wasalamualaikum Pa


Sabtu, 09 Desember 2017

Tentang Nabilah yang terlambat mencintai

Plis jangan mengatakan apa-apa.
Yes, gue alay
Gue lebih memilih blog untuk mencurahkan perasaan gue.

Habis....
Curhat yang paling menyenangkan memang sebenarnya lewat blog ini. Tapi terkadang memulai untuk menulis lagi itu seperti kehilangan energi saat mengetik kata pertama. Selalu terlintas 'Bagaimana gue menceritakannya? Bahasa yang enak gimana ya? Apakah Gue bakalan terlihat alay kah dengan curhat beginian? Apa hal ini terlalu bersifat pribadi kalau gue ceritakan ke blog ini? Ada yang baca kah?'

dan segudang pertanyaan lainnya yang membuat gue berfikir ulang untuk menulis.

Tapi pada akhirnya, gue membangun mental gue untuk kembali bercerita di sini.
To the point : Gue udah muak dengan writer's block berkepanjangan ini.

Ingat postingan gue mengenai kebosanan gue dalam menulis. gue selalu membangun pikiran positif bahwa 'Ini cuma sementara'. Tapi...

Hampir 3 tahun nggak bisa menulis itu kini membuat kegelisahan tersendiri. Terlebih melihat beberapa teman yang sudah mulai kerja sebagai penulis, melihat beberapa project menulis yang terlewatkan dan beberapa kesempatan dimana sebenarnya saya bisa memulai menulis, tapi akhirnya terlewatkan karena otaknya serasa buntu.

Gue selalu mencari akar dari permasalahan, termasuk masalah ini. Gue mulai berfikir, gue nggak bisa menyerah dengan hal ini, gue harus segera mencari solusinya. Gue ingin tetap menulis.

Ngomong-ngomong, gue merasa ini seperti karma buat gue. Kenapa karma?



Sedikit bercerita ke masa lampau. (Nggak sedikit sih, ini akan jadi cerita yang sangat panjang)

Gue adalah orang yang memiliki banyak cita-cita. Setidaknya gue berganti cita-cita 3 kali (itu hanya yang gue ingat saat ini. Sebenarnya ada lebih banyak dari itu)

Waktu SD kelas 6, gue mempunyai cita-cita menjadi Astronot. Semua bermula ketika gue mengenal pelajaran mengenai mata pelajaran planet di kelas 5 SD. Gue jatuh cinta saat mengetahui fakta dibalik bintang, planet dan seluruh benda alam. Sayangnya saat itu gue baru bisa mempelajari sesuai kurikulum di kelas 6 SD semester 2. Kebahagiaan gue saat bisa menjawab pertanyaan guru 'Mengapa bentuk bulan selalu berubah-ubah?'

Teman-teman gue saat itu nggak bisa jawab. Sementara gue yang sejak semester satu sudah membaca bab itu (berulang kali), hafal setiap isi bab tersebut. Kemudian, saat ada hafalan planet serta kondisi alam setiap planet, gue berhasil mendapat nilai sempurna saat itu. Saat lulus SD, guru di sekolah gue membuat buku tahunan sederhana yang berisi biodata masing-masing dari kami (Oh iya, sekolah gue dulu adalah sekolah baru, jadi angkatan gue adalah angkatan pertama dari sekolah itu. Jadi seangkatan cuma 20 orang). Terus di buku itu, cita-cita yang gue tuangkan adalah menjadi astronot.

Well, ternyata cita-cita menjadi astronot itu hanya bertahan hingga kelas 2 SMP. Setelahnya, gue mengenal komik dan anime yang kemudian menjadikan gue seseorang yang jatuh cinta terhadap kebudayaan jepang (well bukan kebudayaannya sih tapi lebih kepada keinginan untuk pergi ke Jepang). Jadi, saat itu gue memutuskan punya cita-cita ingin pergi ke Jepang dengan bermimpi untuk masuk kuliah jurusan Sastra Jepang. Gue mulai mempelajari bahasanya dan huruf-hurufnya (khususnya hiragana)

Kesukaan gue yang satu ini semakin berlanjut hingga SMA. Terlebih di SMA, ada satu mata pelajaran yang diisi dengan bahasa asing, dan setiap sekolah memiliki mata pelajaran bahasa asing yang berbeda-beda. Beruntungnya, gue mendapatkan sekolah yang memiliki mata pelajaran bahasa asing yaitu bahasa Jepang. Giranglah gue saat itu, terlebih mata pelajarannya lebih memfokuskan kepada pelajaran huruf hiragana dan kata-kata dasar sehari-hari. Gue yang sebelumnya sudah khatam dengan Hiragana, merasa tidak kesulitan untuk mengikuti pelajaran tersebut.

Hal itu menjadikan gue selalu memberikan standar nilai tertinggi untuk mata pelajaran itu. Kalau mata pelajaran lain nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sekitar 65-70, gue selalu menargetkan untuk mendapatkan minimal 90 untuk mata pelajaran Bahasa Jepang. Yaa... maafkan gue yang terlalu angkuh saat itu, tapi gimana ya?? bagi gue, angka minimum 90 itu membuktikan bahwa sangat mencintai Jejepangan.

Sampai saat gue di kelas 2 SMA, gue mendapatkan kabar dari guru bahasa Jepang kalau gue menjadi perwakilan sekolah gue untuk mengikuti seleksi program Jenesys, yaitu program pertukaran pelajar ke Jepang. Pasti kebayang kan reaksi gue saat itu? Gue loncat kegirangan sekaligus deg-degan. Sayangnya program ini jugalah yang membuat gue kecewa dan hilang minat terhadap hal Jejepangan (Gue berencana menceritakan ini secara khusus di sebuah postingan blog tersendiri. Habis ini yaa...)

Singkat cerita, gue gagal dalam program itu dan sepulang seleksi gue menangis sejadi-jadinya. Alhasil, seiring dengan waktu, gue mulai meninggalkan minat Jejepangan itu (tetapi nilai mata pelajaran bahasa Jepang gue tetap bertahan di angka 9). Tapi, akhirnya gue tetap menyisakan rasa cinta gue kok, namanya juga pernah bahagia saat mencintai jejepangan (ini cita-cita atau kisah cinta sama mantan sih?).

Lalu masuklah masa-masa memilih Jurusan kuliah. Ironisnya adalah, gue yang sejak SMP memiliki banyak cita-cita dan impian, justru mulai kehilangan arah dalam memilih jurusan. Seandainya impian menjadi astronot bertahan, maka gue dengan mantap akan memilih Ilmu Astronomi ITB. Lalu gue sempat ingin tertarik masuk Filsafat UI, lalu saat menyukai komik detektif Q.E.D (ada yang tahu??), gue berkeinginan untuk memilih Matematika Murni, entah di ITB maupun di  UI. Dengan sisa cinta terhadap jejepangan, gue masih memiliki minat untuk memilih Sastra Jepang.

Tapi karena satu dan berbagai alasan, akhirnya keputusan gue memilih ujian SNMPTN dengan mengambil Psikologi UI dan Sastra Jepang UI. Berhubung saat SMA gue anak jurusan IPA, gue nggak bisa mengambil jurusan-jurusan tersebut melalui jalur undangan. Gue rasa itu sebenarnya kebijakan dari sekolah gue aja. Soalnya saat gue tinjau ke sekolah lain, ada beberapa teman gue yang juga jurusan IPA, tetapi mengambil jalur undangan untuk daftar jurusan di bidang IPS. Tapi, yaudahlah ya.

Singkat cerita, gue gagal di semua test.
Yes, gue gagal masuk universitas negeri

Di titik ini, gue sempat flashback semua hal dan gue merasa memang gue semakin hilang arah. Tahu kenapa gue kehilangan arah? Karena saat itu gue sadar, gue nggak punya (lebih tepatnya belum tahu) bakat gue apa. Semua hal yang gue suka, itu karena gue mempelajarinya, bukan bakat dari lahir. Gue sempat di titik merasa iri terhadap adik gue yang sedari kecil pintar menggambar, sementara gue selalu dibilang nggak punya bakat seni. Gue sempat di titik merasa iri terhadap orang yang sudah tahu apa yang mereka inginkan, sementara gue? Cita-cita aja nggak bisa konsisten.

Gue pun menyadari bahwa semua nilai bagus, peringkat yang gue dapatkan hanya karena gue rajin dan memaksakan diri gue untuk menghafal semua pelajaran tersebut. Percayalah, gue adalah tipe anak yang ambisius terhadap nilai. Tapi setelah itu, semua pelajaran yang sudah gue hafal pun menguap begitu saja. Ya, mungkin sebagian orang juga mengalami itu. Tapi hal itu juga yang akhirnya gue sesali. Gue belajar hanya untuk di hafalkan, bukan untuk mengerti

Lalu gue mulai frustasi membangun bakat gue, terutama di bidang seni. Tetapi nyatanya memang gue nggak bakat di bidang seni apapun (Nanti gue juga mau cerita hal ini secara khusus di postingan tersendiri). Kenyataan itu membuat gue semakin mencari dengan membabi buta. Padahal sebenarnya ada hal yang gue lewatkan.


Bakat menulis.


Tanpa gue sadari, gue sangat suka menulis. Semua bermula dari kebiasaan menulis diari sejak SD, kesukaan menulis puisi dan membaca buku, bahkan gue pernah punya pacar yang memotivasi gue membuat buku puisi sendiri dan sampai gue putus dengan dia, gue masih melanjutkan buku puisi itu. Sempat terlintas untuk menjadikan menulis sebagai cita-cita, tetapi suara-suara dari sekitar gue selalu menyuarakan bahwa ‘menulis itu nggak ada yang istimewa. Menulis bisa jadi mimpi sekunder, pekerjaan sampingan dan sebagainya’

Lalu gue mulai menampikkan bakat menulis. Ya, gue menulis tapi cuma jadi sekedar pengisi waktu. Gue tetap sibuk membangun bakat lain, tetap memaksakan diri gue untuk memiliki bakat lain yang lebih keren (damn my old me!). Sampai di beberapa titik gue akhirnya menyadari bahwa ya bagaimanapun, bakat gue emang menulis dan bahwa sebenarnya bakat yang satu ini istimewa.

Titik pertama, saat nyokap gue mengatakan bahwa sejak kecil gue selalu menyukai merangkai dan bertutur kata dengan baik dan benar. Waktu kecil ternyata saat gue berbicara, gue akan merangkai kalimat dengan bahasa indonesia yang baik dan benar. SPOK nya rapi. Mungkin faktor bahwa gue baru bisa berbicara di umur 2 tahun, sehingga gue yang selama itu mengucap satu dua kata, saat mengenal kalimat, gue sebisa mungkin mencoba merangkai dengan rapi.

Titik kedua, saat gue dan mantan gue yang memotivasi gue untuk membuat buku puisi, akhirnya menyapa gue lagi setelah nggak ngobrol beberapa bulan (nggak musuhan kok, hanya jadi jarang ngobrol, hahahha). Saat itu kita bertukar buku puisi dan kita harus menulis puisi di buku itu. Yang gue nggak pernah sangka adalah, dia akan menulis puisi mengenai kepercayaan dia bahwa suatu hari nanti gue akan menjadi penulis. Dia sendiri berbicara dalam puisi itu bahwa gue akan melampaui dirinya (padahal menurut gue, justru dia yang jauh lebih pintar dalam menulis. Puisi-puisinya lebih indah daripada puisi gue).

By the way, puisinya berjudul ‘Untukmu’ dan masih gue simpan (Tapi gue lupa taruh dimana, hahaha kebiasaan banget deh gue). Tapi gue pernah menulis balasan untuk puisinya. Kalimat kurang lebih membalas setiap bait. Ini puisi balasannya :

Reply "untukmu"
saudaraku
terima kasih engkau telah mempercayaiku
atas perkembanganku nanti ke depan
aku janji akan terus menulis di buku ini

aku juga telah melihat bukumu
terdapat kalbumu yang terwakili oleh tulisan
takkan pernah ku benci tulisanmu itui
dan takkan pernah kuhapus

mungkin kita sama
karena kita percaya pada kekuatan kata-kata
kita tuliskan isi hati kita
 melalui kata-kata menawan

aku takkan berkecil hati
aku tak membandingkan karya kita
karena kita sama
yang suatu hari nanti
menjadi sang maestro kata-kata

aku memang wanita
namun seorang pria pun memiliki perasaan
aku percaya
rasiomu takkan membunuh perasaanmu

ayo kita wujudkan impian kita sobat
wujudkan mimpi-mimpi yang pernah kita impikan
mimpi-mimpi kita yang hebat
hingga ajal nanti

berjanjilah saudaraku
ketika suatu hari nanti kita dapat mewujudkan impian kita
kita akan mempersatukan impian kita
yang kuyakin dapat merubah dunia

trims saudaraku, sahabatku

(Ya, nanti gue cari ya puisinya ya buat gue taro disini. Musti bongkar kotak kenangan lagi soalnya)

Titik ketiga adalah ketika akhirnya gue memutuskan berkuliah di Institut Kesenian Jakarta, belajar film khususnya menjadi penulis skenario. Awalnya gue ingin memilih jurusan teater, tetapi kali ini hati gue berkata, kembalilah ke menulis.

Jadi, kalau bisa diibaratkan ...
Gue udah berkelana mencari pasangan (bakat) yang terbaik versi gue, padahal selama ini ada seseorang (bakat menulis) yang selalu setia menemani gue, tetapi gue abaikan terus. Lalu setelah sekian lama, akhirnya gue menyadari ada yang tulus mencintai gue yaitu si bakat menulis ini. Lalu akhirnya gue belajar mencintai dia dan menerima dia dan hidup bahagia untuk selamanya...
.
.
.
.
Nggak... hidup bahagia untuk selamanya cuma ada di cerita dongeng.

Ingat di awal cerita kalau gue bilang diri gue kena karma? Yap, ini karmanya
Ketika gue mulai mencintai si Bakat menulis ini. Dia pergi.......
Disaat gue mulai memutuskan untuk menjadikan menulis sebagai cita-cita, dia tinggalkan gue dengan seenaknya, tepatnya 3 tahun yang lalu.

Damn
Bangsat
Sial
...........................................................................
Mungkin ini karmanya, gue terlalu sibuk mencari hal lain, tapi nggak bisa menerima diri gue yang memang punya bakat menulis sejak dulu. Jadi, ketika gue menyadarinya, gue udah terlambat. Dia keburu lelah dengan gue yang nggak kunjung menyadari keberadaannya. Akhirnya dia pergi.
Cinta datang terlambat...
Ya, mungkin semua salah gue...
 .
.
.
.
.
Hahaha ini kenapa jadi kayak curhatan habis putus ya?
Tapi intinya begitu, gue salah karena tidak sejak awal menyadari keberadaan si bakat ini. Sekarang yang bisa gue lakukan adalah meyakinkan dia untuk kembali lagi. Semoga gue masih ada harapan. :D


Semoga dia lihat usaha gue...



Minggu, 05 November 2017

Ketika saya...

Ketika saya masih mencari bentuk bantuan
tandanya saya masih memiliki harapan untuk melanjutkan hidup

tapi ketika saya memutuskan untuk diam dan berhenti
maka disitu saya telah kehilangan harapan

Senin, 17 April 2017

Tentang Penulis yang Bosan menulis

Hallo
Selamat Tahun Baru (Plis ya bil, ini sudah pertengahan April -_- )

Hehehe, seperti biasa
Nabilah selalu out of plan dalam hal meningkatkan kuallitas diri.
cuma bisa berencana dan rencana tersebut berakhir hanya menjadi catatan asal disebuah buku atau blonk note. Rencana untuk serius terhadap blog ini (nggak serius-serius amat sih!) dari awal tahun, tertunda hingga postingan blog sebelum ini.

Tapi nggak sepenuhnya diluar perencanaan, hanya saja beberapa tulisan yang sudah dibuat dari jauh sebelum tahun baru, banyak yang berakhir menjadi draft di blog ini. Ada banyak alasan, entah tulisannya terlalu sensitif, takut menyinggung beberapa pihak, ada yang terlalu curhat dan akhirnya nabil berfikir 'kayaknya gue ngenes banget ceritain hal ini di blog'

dan beberapa rencana lain yang masih on progress, termasuk proyek pribadi.

well, selama empat bulan semenjak tahun baru. Gue sudah mengalami banyak  hal yang cukup mengubah hidup gue. Mulai dari masalah keluarga, masalah finansial bahkan masalah percintaan. 

Hahaha, Nabil bisa juga ya mengalami masalah percintaan (damn!)

well, beberapa masalah sedikit banyaknya menaikan level stress dan tekanan dalam hidup gue (Lebay), dan awalnya gue mau terapi via blog ini. Tapi mungkin karena banyak yang terlalu pribadi, gue mengurungkan niat itu.

Nah. Gara-gara itu juga, beberapa tulisan yang merupakan proyek pribadi gue (dan nggak ada hubungannya dengan masalah gue) juga ketunda karena ke-engganan gue dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan. Boleh dibilang, gue lagi dititik bosan menulis. 



Penulis kok bosan nulis ya????



percaya nggak percaya, hal itu sudah gue rasakan semenjak berakhirnya mata kuliah 'Penulisan Kreatif', yakni sekitar pertengahan 2015. Gue juga heran, seharusnya selepas mata kuliah ini, at least kemampuan menulis gue meningkat dong. apalagi dosennya bukan sembarang orang. 


Bapak Seno Gumira Ajidarma.


Siapa yang nggak kenal dia? lu buka Google, nama dia ada di pencarian paling atas. Gue sangat mengakui kelasnya menyenangkan. Setiap minggu harus mengumpulkan essay, membuat tulisan dengan iringan musik yang kadang-kadang anti mainstream. Bahkan banyak hal yang bisa gue pelajari dari beliau, bukan hanya tentang menulis, tapi tentang hal lainnya. Nah harapan gue selepas kelas ini, kemampuan menulis gue bisa berkembang menjadi lebih baik.

tapi yang gue rasakan justru sebaliknya. bahkan semenjak itu gue seperti mempertanyakan kembali bakat gue yang satu itu. yap gue menyebutnya bakat karena boleh dibilang gue memang memiliki minat menulis sejak kecil, bahkan nilai karangan gue selalu diatas rata-rata.

tapi saat ini, gue seolah kehilangan bakat itu. gue seolah kehilangan gairah untuk menulis. berapa kalipun gue mencoba memperbaiki atau memaksakan menulis, gue cuma menemukan jalan buntu. Bahkan hingga saat ini.

hal inilah yang boleh gue katakan sebagai penyebab nomor satunya gue gagal seminar saat semester 7. Hal ini juga penyabab nomor satu semua rencana gue yang berhubungan dengan menulis selalu ketunda. Gue seperti lelah menulis.

Tapi gue sadar, seharusnya saat ini justru gue nggak boleh lelah. justru gue baru mau memulai. Harusnya gairah gue sama besarnya dengan saat pertama kali gue menyadari gue menyukai kegiatan menulis. bahkan gue pernah janji dengan sahabat gue saat SMA, apapun yang terjadi, gue harus tetap menulis. Dia yang menurut gue kemampuan sastra dan tutur katanya diatas gue, bahkan mengatakan bahwa suatu hari nanti, gue akan menjadi maestro kata-kata melebihi dirinya (jadi inget tulisan terakhir yang dia kasih ke gue #Mewek)

Tapi ya begitulah gue
saat ini jenuh dengan menulis.
mungkin bukan jenuh, tapi lebih kepada menolak untuk menulis yang bukan diri gue.

Hahah omong kosong kan? Justru harusnya gue nggak boleh milih-milih dalam menulis, apalagi saat ini, menulis akan menjadi pekerjaan gue. Harusnya gue siap dengan semua pesanan, semua permintaan tulisan. Toh, nggak semua orang kan bisa se pemikiran dengan gue. Belum tentu kebutuhan pasar sesuai dengan apa yang sebenernya ingin gue tulis.

Tapi...
entahlah
apa yang salah sama diri gue. ini seperti bukan gue.
gue bahkan mencoba membuka tulisan gue yang lampau, siapa tahu gue bisa memotivasi diri gue untuk menulis lagi. tapi yang ada gue hanya menemukan diri gue iri pada tulisan masa lampau gue.

disana gue bebas berekspresi
disana tulisan gue jauh lebih ceria (cenderung konyol, coba aja buka beberapa post awal di blog ini)
disana gue nggak berfikir apa kata orang tentang tulisan gue
yang penting nulis dan nulis
yang penting isi otak gue tersalurkan dalam sebuah tulisan.
seperti tulisan ini.

Gue udah mencoba berbagai hal untuk menghilangkan kejenuhan ini, misalnya :
1. berhenti sejenak untuk menulis, siapa tahu nantinya gue akan rindu menulis
2. mencoba menjadikan sosial media sebagai media baru untuk menulis
3. merencanakan rutinitas di blog ini
4. bodo amat nggak mau tahu, harus nulis minimal satu kalimat perhari

tapi rasa jenuh itu tak kunjung hilang
Ketakutan gue cuma satu, kemampuan bertutur kata gue menghilang karena nggak pernah gue asah karena kejenuhan ini.

gue nggak mau itu.

dan nggak hanya dalam kegiatan menulis. membaca buku pun begitu. ya kurang lebih kasusnya sama dengan menulis. gue jenuh membaca buku.








By the way, gue cukup takjub menyadari bahwa tulisan ini cukup panjang, mengingat kejenuhan gue biasanya jauh lebih kuat. semoga ini merupakan langkah bagus untuk pelan-pelan menghilangkan kejenuhan itu dan menerima kenyataan bahwa mulai saat ini gue akan jarang menulis sesuai dengan apa yang gue mau dan kehendaki (re : banyak menulis karena pesanan kllien)

dan sampai detik ini gue masih berjuang untuk jatuh cinta kembali dengan menulis (juga membaca buku) karena dua hal itu yang akan menuntun gue dalam menjalani karir gue kedepannya


Nabilah, selamat jatuh cinta lagi.



(p.s : selamat, kamu berhasil menyelesaikan tulisan ini)



Minggu, 09 April 2017

Sepintas Terapi buat Nabil

Nabilah si Pemimpi,
sejak dahulu hingga saat ini,
tapi hanya sebatas pemimpi,
hanya segelintir mimpinya yang terwujud menjadi nyata,

entahlah,
apa pemimpi itu adalah pendosa?
tak tahu,
karena aku kira semakin modern dunia, maka semakin banyak pemimpi, tapi ternyata,
orang-orang yang meragukan mimpi juga masih banyak,
baginya mimpi hanyalah bayangan realitas, takkan pernah menjadi nyata,

nggak paham deh!