Sabtu, 09 Desember 2017

Tentang Nabilah yang terlambat mencintai

Plis jangan mengatakan apa-apa.
Yes, gue alay
Gue lebih memilih blog untuk mencurahkan perasaan gue.

Habis....
Curhat yang paling menyenangkan memang sebenarnya lewat blog ini. Tapi terkadang memulai untuk menulis lagi itu seperti kehilangan energi saat mengetik kata pertama. Selalu terlintas 'Bagaimana gue menceritakannya? Bahasa yang enak gimana ya? Apakah Gue bakalan terlihat alay kah dengan curhat beginian? Apa hal ini terlalu bersifat pribadi kalau gue ceritakan ke blog ini? Ada yang baca kah?'

dan segudang pertanyaan lainnya yang membuat gue berfikir ulang untuk menulis.

Tapi pada akhirnya, gue membangun mental gue untuk kembali bercerita di sini.
To the point : Gue udah muak dengan writer's block berkepanjangan ini.

Ingat postingan gue mengenai kebosanan gue dalam menulis. gue selalu membangun pikiran positif bahwa 'Ini cuma sementara'. Tapi...

Hampir 3 tahun nggak bisa menulis itu kini membuat kegelisahan tersendiri. Terlebih melihat beberapa teman yang sudah mulai kerja sebagai penulis, melihat beberapa project menulis yang terlewatkan dan beberapa kesempatan dimana sebenarnya saya bisa memulai menulis, tapi akhirnya terlewatkan karena otaknya serasa buntu.

Gue selalu mencari akar dari permasalahan, termasuk masalah ini. Gue mulai berfikir, gue nggak bisa menyerah dengan hal ini, gue harus segera mencari solusinya. Gue ingin tetap menulis.

Ngomong-ngomong, gue merasa ini seperti karma buat gue. Kenapa karma?



Sedikit bercerita ke masa lampau. (Nggak sedikit sih, ini akan jadi cerita yang sangat panjang)

Gue adalah orang yang memiliki banyak cita-cita. Setidaknya gue berganti cita-cita 3 kali (itu hanya yang gue ingat saat ini. Sebenarnya ada lebih banyak dari itu)

Waktu SD kelas 6, gue mempunyai cita-cita menjadi Astronot. Semua bermula ketika gue mengenal pelajaran mengenai mata pelajaran planet di kelas 5 SD. Gue jatuh cinta saat mengetahui fakta dibalik bintang, planet dan seluruh benda alam. Sayangnya saat itu gue baru bisa mempelajari sesuai kurikulum di kelas 6 SD semester 2. Kebahagiaan gue saat bisa menjawab pertanyaan guru 'Mengapa bentuk bulan selalu berubah-ubah?'

Teman-teman gue saat itu nggak bisa jawab. Sementara gue yang sejak semester satu sudah membaca bab itu (berulang kali), hafal setiap isi bab tersebut. Kemudian, saat ada hafalan planet serta kondisi alam setiap planet, gue berhasil mendapat nilai sempurna saat itu. Saat lulus SD, guru di sekolah gue membuat buku tahunan sederhana yang berisi biodata masing-masing dari kami (Oh iya, sekolah gue dulu adalah sekolah baru, jadi angkatan gue adalah angkatan pertama dari sekolah itu. Jadi seangkatan cuma 20 orang). Terus di buku itu, cita-cita yang gue tuangkan adalah menjadi astronot.

Well, ternyata cita-cita menjadi astronot itu hanya bertahan hingga kelas 2 SMP. Setelahnya, gue mengenal komik dan anime yang kemudian menjadikan gue seseorang yang jatuh cinta terhadap kebudayaan jepang (well bukan kebudayaannya sih tapi lebih kepada keinginan untuk pergi ke Jepang). Jadi, saat itu gue memutuskan punya cita-cita ingin pergi ke Jepang dengan bermimpi untuk masuk kuliah jurusan Sastra Jepang. Gue mulai mempelajari bahasanya dan huruf-hurufnya (khususnya hiragana)

Kesukaan gue yang satu ini semakin berlanjut hingga SMA. Terlebih di SMA, ada satu mata pelajaran yang diisi dengan bahasa asing, dan setiap sekolah memiliki mata pelajaran bahasa asing yang berbeda-beda. Beruntungnya, gue mendapatkan sekolah yang memiliki mata pelajaran bahasa asing yaitu bahasa Jepang. Giranglah gue saat itu, terlebih mata pelajarannya lebih memfokuskan kepada pelajaran huruf hiragana dan kata-kata dasar sehari-hari. Gue yang sebelumnya sudah khatam dengan Hiragana, merasa tidak kesulitan untuk mengikuti pelajaran tersebut.

Hal itu menjadikan gue selalu memberikan standar nilai tertinggi untuk mata pelajaran itu. Kalau mata pelajaran lain nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sekitar 65-70, gue selalu menargetkan untuk mendapatkan minimal 90 untuk mata pelajaran Bahasa Jepang. Yaa... maafkan gue yang terlalu angkuh saat itu, tapi gimana ya?? bagi gue, angka minimum 90 itu membuktikan bahwa sangat mencintai Jejepangan.

Sampai saat gue di kelas 2 SMA, gue mendapatkan kabar dari guru bahasa Jepang kalau gue menjadi perwakilan sekolah gue untuk mengikuti seleksi program Jenesys, yaitu program pertukaran pelajar ke Jepang. Pasti kebayang kan reaksi gue saat itu? Gue loncat kegirangan sekaligus deg-degan. Sayangnya program ini jugalah yang membuat gue kecewa dan hilang minat terhadap hal Jejepangan (Gue berencana menceritakan ini secara khusus di sebuah postingan blog tersendiri. Habis ini yaa...)

Singkat cerita, gue gagal dalam program itu dan sepulang seleksi gue menangis sejadi-jadinya. Alhasil, seiring dengan waktu, gue mulai meninggalkan minat Jejepangan itu (tetapi nilai mata pelajaran bahasa Jepang gue tetap bertahan di angka 9). Tapi, akhirnya gue tetap menyisakan rasa cinta gue kok, namanya juga pernah bahagia saat mencintai jejepangan (ini cita-cita atau kisah cinta sama mantan sih?).

Lalu masuklah masa-masa memilih Jurusan kuliah. Ironisnya adalah, gue yang sejak SMP memiliki banyak cita-cita dan impian, justru mulai kehilangan arah dalam memilih jurusan. Seandainya impian menjadi astronot bertahan, maka gue dengan mantap akan memilih Ilmu Astronomi ITB. Lalu gue sempat ingin tertarik masuk Filsafat UI, lalu saat menyukai komik detektif Q.E.D (ada yang tahu??), gue berkeinginan untuk memilih Matematika Murni, entah di ITB maupun di  UI. Dengan sisa cinta terhadap jejepangan, gue masih memiliki minat untuk memilih Sastra Jepang.

Tapi karena satu dan berbagai alasan, akhirnya keputusan gue memilih ujian SNMPTN dengan mengambil Psikologi UI dan Sastra Jepang UI. Berhubung saat SMA gue anak jurusan IPA, gue nggak bisa mengambil jurusan-jurusan tersebut melalui jalur undangan. Gue rasa itu sebenarnya kebijakan dari sekolah gue aja. Soalnya saat gue tinjau ke sekolah lain, ada beberapa teman gue yang juga jurusan IPA, tetapi mengambil jalur undangan untuk daftar jurusan di bidang IPS. Tapi, yaudahlah ya.

Singkat cerita, gue gagal di semua test.
Yes, gue gagal masuk universitas negeri

Di titik ini, gue sempat flashback semua hal dan gue merasa memang gue semakin hilang arah. Tahu kenapa gue kehilangan arah? Karena saat itu gue sadar, gue nggak punya (lebih tepatnya belum tahu) bakat gue apa. Semua hal yang gue suka, itu karena gue mempelajarinya, bukan bakat dari lahir. Gue sempat di titik merasa iri terhadap adik gue yang sedari kecil pintar menggambar, sementara gue selalu dibilang nggak punya bakat seni. Gue sempat di titik merasa iri terhadap orang yang sudah tahu apa yang mereka inginkan, sementara gue? Cita-cita aja nggak bisa konsisten.

Gue pun menyadari bahwa semua nilai bagus, peringkat yang gue dapatkan hanya karena gue rajin dan memaksakan diri gue untuk menghafal semua pelajaran tersebut. Percayalah, gue adalah tipe anak yang ambisius terhadap nilai. Tapi setelah itu, semua pelajaran yang sudah gue hafal pun menguap begitu saja. Ya, mungkin sebagian orang juga mengalami itu. Tapi hal itu juga yang akhirnya gue sesali. Gue belajar hanya untuk di hafalkan, bukan untuk mengerti

Lalu gue mulai frustasi membangun bakat gue, terutama di bidang seni. Tetapi nyatanya memang gue nggak bakat di bidang seni apapun (Nanti gue juga mau cerita hal ini secara khusus di postingan tersendiri). Kenyataan itu membuat gue semakin mencari dengan membabi buta. Padahal sebenarnya ada hal yang gue lewatkan.


Bakat menulis.


Tanpa gue sadari, gue sangat suka menulis. Semua bermula dari kebiasaan menulis diari sejak SD, kesukaan menulis puisi dan membaca buku, bahkan gue pernah punya pacar yang memotivasi gue membuat buku puisi sendiri dan sampai gue putus dengan dia, gue masih melanjutkan buku puisi itu. Sempat terlintas untuk menjadikan menulis sebagai cita-cita, tetapi suara-suara dari sekitar gue selalu menyuarakan bahwa ‘menulis itu nggak ada yang istimewa. Menulis bisa jadi mimpi sekunder, pekerjaan sampingan dan sebagainya’

Lalu gue mulai menampikkan bakat menulis. Ya, gue menulis tapi cuma jadi sekedar pengisi waktu. Gue tetap sibuk membangun bakat lain, tetap memaksakan diri gue untuk memiliki bakat lain yang lebih keren (damn my old me!). Sampai di beberapa titik gue akhirnya menyadari bahwa ya bagaimanapun, bakat gue emang menulis dan bahwa sebenarnya bakat yang satu ini istimewa.

Titik pertama, saat nyokap gue mengatakan bahwa sejak kecil gue selalu menyukai merangkai dan bertutur kata dengan baik dan benar. Waktu kecil ternyata saat gue berbicara, gue akan merangkai kalimat dengan bahasa indonesia yang baik dan benar. SPOK nya rapi. Mungkin faktor bahwa gue baru bisa berbicara di umur 2 tahun, sehingga gue yang selama itu mengucap satu dua kata, saat mengenal kalimat, gue sebisa mungkin mencoba merangkai dengan rapi.

Titik kedua, saat gue dan mantan gue yang memotivasi gue untuk membuat buku puisi, akhirnya menyapa gue lagi setelah nggak ngobrol beberapa bulan (nggak musuhan kok, hanya jadi jarang ngobrol, hahahha). Saat itu kita bertukar buku puisi dan kita harus menulis puisi di buku itu. Yang gue nggak pernah sangka adalah, dia akan menulis puisi mengenai kepercayaan dia bahwa suatu hari nanti gue akan menjadi penulis. Dia sendiri berbicara dalam puisi itu bahwa gue akan melampaui dirinya (padahal menurut gue, justru dia yang jauh lebih pintar dalam menulis. Puisi-puisinya lebih indah daripada puisi gue).

By the way, puisinya berjudul ‘Untukmu’ dan masih gue simpan (Tapi gue lupa taruh dimana, hahaha kebiasaan banget deh gue). Tapi gue pernah menulis balasan untuk puisinya. Kalimat kurang lebih membalas setiap bait. Ini puisi balasannya :

Reply "untukmu"
saudaraku
terima kasih engkau telah mempercayaiku
atas perkembanganku nanti ke depan
aku janji akan terus menulis di buku ini

aku juga telah melihat bukumu
terdapat kalbumu yang terwakili oleh tulisan
takkan pernah ku benci tulisanmu itui
dan takkan pernah kuhapus

mungkin kita sama
karena kita percaya pada kekuatan kata-kata
kita tuliskan isi hati kita
 melalui kata-kata menawan

aku takkan berkecil hati
aku tak membandingkan karya kita
karena kita sama
yang suatu hari nanti
menjadi sang maestro kata-kata

aku memang wanita
namun seorang pria pun memiliki perasaan
aku percaya
rasiomu takkan membunuh perasaanmu

ayo kita wujudkan impian kita sobat
wujudkan mimpi-mimpi yang pernah kita impikan
mimpi-mimpi kita yang hebat
hingga ajal nanti

berjanjilah saudaraku
ketika suatu hari nanti kita dapat mewujudkan impian kita
kita akan mempersatukan impian kita
yang kuyakin dapat merubah dunia

trims saudaraku, sahabatku

(Ya, nanti gue cari ya puisinya ya buat gue taro disini. Musti bongkar kotak kenangan lagi soalnya)

Titik ketiga adalah ketika akhirnya gue memutuskan berkuliah di Institut Kesenian Jakarta, belajar film khususnya menjadi penulis skenario. Awalnya gue ingin memilih jurusan teater, tetapi kali ini hati gue berkata, kembalilah ke menulis.

Jadi, kalau bisa diibaratkan ...
Gue udah berkelana mencari pasangan (bakat) yang terbaik versi gue, padahal selama ini ada seseorang (bakat menulis) yang selalu setia menemani gue, tetapi gue abaikan terus. Lalu setelah sekian lama, akhirnya gue menyadari ada yang tulus mencintai gue yaitu si bakat menulis ini. Lalu akhirnya gue belajar mencintai dia dan menerima dia dan hidup bahagia untuk selamanya...
.
.
.
.
Nggak... hidup bahagia untuk selamanya cuma ada di cerita dongeng.

Ingat di awal cerita kalau gue bilang diri gue kena karma? Yap, ini karmanya
Ketika gue mulai mencintai si Bakat menulis ini. Dia pergi.......
Disaat gue mulai memutuskan untuk menjadikan menulis sebagai cita-cita, dia tinggalkan gue dengan seenaknya, tepatnya 3 tahun yang lalu.

Damn
Bangsat
Sial
...........................................................................
Mungkin ini karmanya, gue terlalu sibuk mencari hal lain, tapi nggak bisa menerima diri gue yang memang punya bakat menulis sejak dulu. Jadi, ketika gue menyadarinya, gue udah terlambat. Dia keburu lelah dengan gue yang nggak kunjung menyadari keberadaannya. Akhirnya dia pergi.
Cinta datang terlambat...
Ya, mungkin semua salah gue...
 .
.
.
.
.
Hahaha ini kenapa jadi kayak curhatan habis putus ya?
Tapi intinya begitu, gue salah karena tidak sejak awal menyadari keberadaan si bakat ini. Sekarang yang bisa gue lakukan adalah meyakinkan dia untuk kembali lagi. Semoga gue masih ada harapan. :D


Semoga dia lihat usaha gue...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar