Plis jangan mengatakan apa-apa.
Yes, gue alay
Gue lebih memilih blog untuk mencurahkan
perasaan gue.
Habis....
Curhat yang paling menyenangkan memang
sebenarnya lewat blog ini. Tapi terkadang memulai untuk menulis lagi itu
seperti kehilangan energi saat mengetik kata pertama. Selalu terlintas
'Bagaimana gue menceritakannya? Bahasa yang enak gimana ya? Apakah Gue bakalan
terlihat alay kah dengan curhat beginian? Apa hal ini terlalu bersifat pribadi
kalau gue ceritakan ke blog ini? Ada yang baca kah?'
dan segudang pertanyaan lainnya yang
membuat gue berfikir ulang untuk menulis.
Tapi pada akhirnya, gue membangun mental
gue untuk kembali bercerita di sini.
To the point : Gue udah muak dengan writer's
block berkepanjangan ini.
Ingat postingan gue mengenai kebosanan gue
dalam menulis. gue selalu membangun pikiran positif bahwa 'Ini cuma sementara'.
Tapi...
Hampir 3 tahun nggak bisa menulis itu kini
membuat kegelisahan tersendiri. Terlebih melihat beberapa teman yang sudah
mulai kerja sebagai penulis, melihat beberapa project menulis yang terlewatkan
dan beberapa kesempatan dimana sebenarnya saya bisa memulai menulis, tapi
akhirnya terlewatkan karena otaknya serasa buntu.
Gue selalu mencari akar dari permasalahan,
termasuk masalah ini. Gue mulai berfikir, gue nggak bisa menyerah dengan hal
ini, gue harus segera mencari solusinya. Gue ingin tetap menulis.
Ngomong-ngomong, gue merasa ini seperti
karma buat gue. Kenapa karma?
Sedikit bercerita ke masa lampau. (Nggak
sedikit sih, ini akan jadi cerita yang sangat panjang)
Gue adalah orang yang memiliki banyak
cita-cita. Setidaknya gue berganti cita-cita 3 kali (itu hanya yang gue ingat
saat ini. Sebenarnya ada lebih banyak dari itu)
Waktu SD kelas 6, gue mempunyai cita-cita
menjadi Astronot. Semua bermula ketika gue mengenal pelajaran mengenai mata
pelajaran planet di kelas 5 SD. Gue jatuh cinta saat mengetahui fakta dibalik
bintang, planet dan seluruh benda alam. Sayangnya saat itu gue baru bisa
mempelajari sesuai kurikulum di kelas 6 SD semester 2. Kebahagiaan gue saat
bisa menjawab pertanyaan guru 'Mengapa bentuk bulan selalu berubah-ubah?'
Teman-teman gue saat itu nggak bisa jawab.
Sementara gue yang sejak semester satu sudah membaca bab itu (berulang kali),
hafal setiap isi bab tersebut. Kemudian, saat ada hafalan planet serta kondisi
alam setiap planet, gue berhasil mendapat nilai sempurna saat itu. Saat lulus
SD, guru di sekolah gue membuat buku tahunan sederhana yang berisi biodata
masing-masing dari kami (Oh iya, sekolah gue dulu adalah sekolah baru, jadi
angkatan gue adalah angkatan pertama dari sekolah itu. Jadi seangkatan cuma 20
orang). Terus di buku itu, cita-cita yang gue tuangkan adalah menjadi astronot.
Well, ternyata cita-cita menjadi astronot
itu hanya bertahan hingga kelas 2 SMP. Setelahnya, gue mengenal komik dan anime
yang kemudian menjadikan gue seseorang yang jatuh cinta terhadap kebudayaan
jepang (well bukan kebudayaannya sih tapi lebih kepada keinginan untuk pergi ke
Jepang). Jadi, saat itu gue memutuskan punya cita-cita ingin pergi ke Jepang
dengan bermimpi untuk masuk kuliah jurusan Sastra Jepang. Gue mulai mempelajari
bahasanya dan huruf-hurufnya (khususnya hiragana)
Kesukaan gue yang satu ini semakin
berlanjut hingga SMA. Terlebih di SMA, ada satu mata pelajaran yang diisi
dengan bahasa asing, dan setiap sekolah memiliki mata pelajaran bahasa asing
yang berbeda-beda. Beruntungnya, gue mendapatkan sekolah yang memiliki mata
pelajaran bahasa asing yaitu bahasa Jepang. Giranglah gue saat itu, terlebih
mata pelajarannya lebih memfokuskan kepada pelajaran huruf hiragana dan
kata-kata dasar sehari-hari. Gue yang sebelumnya sudah khatam dengan Hiragana,
merasa tidak kesulitan untuk mengikuti pelajaran tersebut.
Hal itu menjadikan gue selalu memberikan
standar nilai tertinggi untuk mata pelajaran itu. Kalau mata pelajaran lain
nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) sekitar 65-70, gue selalu menargetkan
untuk mendapatkan minimal 90 untuk mata pelajaran Bahasa Jepang. Yaa... maafkan
gue yang terlalu angkuh saat itu, tapi gimana ya?? bagi gue, angka minimum 90
itu membuktikan bahwa sangat mencintai Jejepangan.
Sampai saat gue di kelas 2 SMA, gue
mendapatkan kabar dari guru bahasa Jepang kalau gue menjadi perwakilan sekolah
gue untuk mengikuti seleksi program Jenesys, yaitu program pertukaran pelajar
ke Jepang. Pasti kebayang kan reaksi gue saat itu? Gue loncat kegirangan
sekaligus deg-degan. Sayangnya program ini jugalah yang membuat gue kecewa dan
hilang minat terhadap hal Jejepangan (Gue berencana menceritakan ini secara
khusus di sebuah postingan blog tersendiri. Habis ini yaa...)
Singkat cerita, gue gagal dalam program
itu dan sepulang seleksi gue menangis sejadi-jadinya. Alhasil, seiring dengan
waktu, gue mulai meninggalkan minat Jejepangan itu (tetapi nilai mata pelajaran
bahasa Jepang gue tetap bertahan di angka 9). Tapi, akhirnya gue tetap
menyisakan rasa cinta gue kok, namanya juga pernah bahagia saat mencintai
jejepangan (ini cita-cita atau kisah cinta sama mantan sih?).
Lalu masuklah masa-masa memilih Jurusan kuliah.
Ironisnya adalah, gue yang sejak SMP memiliki banyak cita-cita dan impian,
justru mulai kehilangan arah dalam memilih jurusan. Seandainya impian menjadi
astronot bertahan, maka gue dengan mantap akan memilih Ilmu Astronomi ITB. Lalu
gue sempat ingin tertarik masuk Filsafat UI, lalu saat menyukai komik detektif
Q.E.D (ada yang tahu??), gue berkeinginan untuk memilih Matematika Murni, entah
di ITB maupun di UI. Dengan sisa cinta
terhadap jejepangan, gue masih memiliki minat untuk memilih Sastra Jepang.
Tapi karena satu dan berbagai alasan,
akhirnya keputusan gue memilih ujian SNMPTN dengan mengambil Psikologi UI dan
Sastra Jepang UI. Berhubung saat SMA gue anak jurusan IPA, gue nggak bisa
mengambil jurusan-jurusan tersebut melalui jalur undangan. Gue rasa itu
sebenarnya kebijakan dari sekolah gue aja. Soalnya saat gue tinjau ke sekolah
lain, ada beberapa teman gue yang juga jurusan IPA, tetapi mengambil jalur
undangan untuk daftar jurusan di bidang IPS. Tapi, yaudahlah ya.
Singkat cerita, gue gagal di semua test.
Yes, gue gagal masuk universitas negeri
Di titik ini, gue sempat flashback semua
hal dan gue merasa memang gue semakin hilang arah. Tahu kenapa gue kehilangan
arah? Karena saat itu gue sadar, gue nggak punya (lebih tepatnya belum tahu)
bakat gue apa. Semua hal yang gue suka, itu karena gue mempelajarinya, bukan
bakat dari lahir. Gue sempat di titik merasa iri terhadap adik gue yang sedari
kecil pintar menggambar, sementara gue selalu dibilang nggak punya bakat seni. Gue
sempat di titik merasa iri terhadap orang yang sudah tahu apa yang mereka
inginkan, sementara gue? Cita-cita aja nggak bisa konsisten.
Gue pun menyadari bahwa semua nilai bagus,
peringkat yang gue dapatkan hanya karena gue rajin dan memaksakan diri gue
untuk menghafal semua pelajaran tersebut. Percayalah, gue adalah tipe anak yang
ambisius terhadap nilai. Tapi setelah itu, semua pelajaran yang sudah gue hafal
pun menguap begitu saja. Ya, mungkin sebagian orang juga mengalami itu. Tapi
hal itu juga yang akhirnya gue sesali. Gue belajar hanya untuk di hafalkan,
bukan untuk mengerti
Lalu gue mulai frustasi membangun bakat
gue, terutama di bidang seni. Tetapi nyatanya memang gue nggak bakat di bidang
seni apapun (Nanti gue juga mau cerita hal ini secara khusus di postingan
tersendiri). Kenyataan itu membuat gue semakin mencari dengan membabi buta.
Padahal sebenarnya ada hal yang gue lewatkan.
Bakat menulis.
Tanpa gue sadari, gue sangat suka menulis.
Semua bermula dari kebiasaan menulis diari sejak SD, kesukaan menulis puisi dan
membaca buku, bahkan gue pernah punya pacar yang memotivasi gue membuat buku
puisi sendiri dan sampai gue putus dengan dia, gue masih melanjutkan buku puisi
itu. Sempat terlintas untuk menjadikan menulis sebagai cita-cita, tetapi
suara-suara dari sekitar gue selalu menyuarakan bahwa ‘menulis itu nggak ada
yang istimewa. Menulis bisa jadi mimpi sekunder, pekerjaan sampingan dan
sebagainya’
Lalu gue mulai menampikkan bakat menulis.
Ya, gue menulis tapi cuma jadi sekedar pengisi waktu. Gue tetap sibuk membangun
bakat lain, tetap memaksakan diri gue untuk memiliki bakat lain yang lebih
keren (damn my old me!). Sampai di beberapa titik gue akhirnya menyadari bahwa ya bagaimanapun, bakat gue emang menulis dan bahwa sebenarnya bakat yang
satu ini istimewa.
Titik pertama, saat nyokap gue mengatakan
bahwa sejak kecil gue selalu menyukai merangkai dan bertutur kata dengan baik
dan benar. Waktu kecil ternyata saat gue berbicara, gue akan merangkai kalimat
dengan bahasa indonesia yang baik dan benar. SPOK nya rapi. Mungkin faktor
bahwa gue baru bisa berbicara di umur 2 tahun, sehingga gue yang selama itu
mengucap satu dua kata, saat mengenal kalimat, gue sebisa mungkin mencoba
merangkai dengan rapi.
Titik kedua, saat gue dan mantan gue yang
memotivasi gue untuk membuat buku puisi, akhirnya menyapa gue lagi setelah
nggak ngobrol beberapa bulan (nggak musuhan kok, hanya jadi jarang ngobrol,
hahahha). Saat itu kita bertukar buku puisi dan kita harus menulis puisi di
buku itu. Yang gue nggak pernah sangka adalah, dia akan menulis puisi mengenai
kepercayaan dia bahwa suatu hari nanti gue akan menjadi penulis. Dia sendiri
berbicara dalam puisi itu bahwa gue akan melampaui dirinya (padahal menurut
gue, justru dia yang jauh lebih pintar dalam menulis. Puisi-puisinya lebih indah
daripada puisi gue).
By the way, puisinya berjudul ‘Untukmu’
dan masih gue simpan (Tapi gue lupa taruh dimana, hahaha kebiasaan banget deh
gue). Tapi gue pernah menulis balasan untuk puisinya. Kalimat kurang lebih
membalas setiap bait. Ini puisi balasannya :
Reply "untukmu"
saudaraku
terima kasih engkau telah mempercayaiku
atas perkembanganku nanti ke depan
aku janji akan terus menulis di buku ini
aku juga telah melihat bukumu
terdapat kalbumu yang terwakili oleh tulisan
takkan pernah ku benci tulisanmu itui
dan takkan pernah kuhapus
mungkin kita sama
karena kita percaya pada kekuatan kata-kata
kita tuliskan isi hati kita
melalui kata-kata menawan
aku takkan berkecil hati
aku tak membandingkan karya kita
karena kita sama
yang suatu hari nanti
menjadi sang maestro kata-kata
aku memang wanita
namun seorang pria pun memiliki perasaan
aku percaya
rasiomu takkan membunuh perasaanmu
ayo kita wujudkan impian kita sobat
wujudkan mimpi-mimpi yang pernah kita impikan
mimpi-mimpi kita yang hebat
hingga ajal nanti
berjanjilah saudaraku
ketika suatu hari nanti kita dapat mewujudkan impian kita
kita akan mempersatukan impian kita
yang kuyakin dapat merubah dunia
trims saudaraku, sahabatku
terima kasih engkau telah mempercayaiku
atas perkembanganku nanti ke depan
aku janji akan terus menulis di buku ini
aku juga telah melihat bukumu
terdapat kalbumu yang terwakili oleh tulisan
takkan pernah ku benci tulisanmu itui
dan takkan pernah kuhapus
mungkin kita sama
karena kita percaya pada kekuatan kata-kata
kita tuliskan isi hati kita
melalui kata-kata menawan
aku takkan berkecil hati
aku tak membandingkan karya kita
karena kita sama
yang suatu hari nanti
menjadi sang maestro kata-kata
aku memang wanita
namun seorang pria pun memiliki perasaan
aku percaya
rasiomu takkan membunuh perasaanmu
ayo kita wujudkan impian kita sobat
wujudkan mimpi-mimpi yang pernah kita impikan
mimpi-mimpi kita yang hebat
hingga ajal nanti
berjanjilah saudaraku
ketika suatu hari nanti kita dapat mewujudkan impian kita
kita akan mempersatukan impian kita
yang kuyakin dapat merubah dunia
trims saudaraku, sahabatku
(Ya, nanti gue cari ya
puisinya ya buat gue taro disini. Musti bongkar kotak kenangan lagi soalnya)
Titik ketiga adalah
ketika akhirnya gue memutuskan berkuliah di Institut Kesenian Jakarta, belajar
film khususnya menjadi penulis skenario. Awalnya gue ingin memilih jurusan
teater, tetapi kali ini hati gue berkata, kembalilah ke menulis.
Jadi, kalau bisa diibaratkan
...
Gue udah berkelana
mencari pasangan (bakat) yang terbaik versi gue, padahal selama ini ada
seseorang (bakat menulis) yang selalu setia menemani gue, tetapi gue abaikan
terus. Lalu setelah sekian lama, akhirnya gue menyadari ada yang tulus
mencintai gue yaitu si bakat menulis ini. Lalu akhirnya gue belajar mencintai
dia dan menerima dia dan hidup bahagia untuk selamanya...
.
.
.
.
.
Nggak... hidup bahagia
untuk selamanya cuma ada di cerita dongeng.
Ingat di awal cerita
kalau gue bilang diri gue kena karma? Yap, ini karmanya
Ketika gue mulai
mencintai si Bakat menulis ini. Dia pergi.......
Disaat gue mulai
memutuskan untuk menjadikan menulis sebagai cita-cita, dia tinggalkan gue
dengan seenaknya, tepatnya 3 tahun yang lalu.
Damn
Bangsat
Sial
...........................................................................
Mungkin ini karmanya,
gue terlalu sibuk mencari hal lain, tapi nggak bisa menerima diri gue yang
memang punya bakat menulis sejak dulu. Jadi, ketika gue menyadarinya, gue udah
terlambat. Dia keburu lelah dengan gue yang nggak kunjung menyadari
keberadaannya. Akhirnya dia pergi.
Cinta datang
terlambat...
Ya, mungkin semua salah
gue...
.
.
.
.
.
Hahaha ini kenapa jadi
kayak curhatan habis putus ya?
Tapi intinya begitu,
gue salah karena tidak sejak awal menyadari keberadaan si bakat ini. Sekarang yang
bisa gue lakukan adalah meyakinkan dia untuk kembali lagi. Semoga gue masih ada
harapan. :D
Semoga dia lihat usaha
gue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar